KLIK.SAMPIT – Kenaikan harga oli dan suku cadang kendaraan bermotor mulai dirasakan masyarakat di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kondisi tersebut membuat biaya perawatan kendaraan semakin tinggi dan mulai membebani para pemilik kendaraan.
Putra, salah seorang warga Sampit, mengaku harga oli kendaraan yang biasa digunakannya mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Jika sebelumnya dibanderol sekitar Rp47 ribu per botol, kini harga oli tersebut telah mencapai Rp55 ribu per botol.
“Untuk harga oli sekarang memang naik. Oli motor saya yang biasanya sekitar Rp47 ribu sekarang sudah Rp55 ribu per botol. Kenaikannya rata-rata sekitar 7 sampai 10 persen,” ujar Putra, saat dibincangi Klikkalteng.id, Rabu (10/6).
Tidak hanya oli, harga berbagai jenis suku cadang kendaraan bermotor juga ikut mengalami kenaikan. Menurut Putra, lonjakan harga suku cadang berkisar antara 3 hingga 10 persen. Bahkan untuk beberapa komponen tertentu, kenaikannya mencapai sekitar 15 persen.
Ia menilai tingginya ketergantungan terhadap produk impor menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kenaikan harga tersebut. Sebagian besar suku cadang kendaraan yang beredar di pasaran masih didatangkan dari luar negeri sehingga sangat dipengaruhi fluktuasi nilai tukar mata uang.
“Karena banyak sparepart masih impor, saat nilai dolar naik dan rupiah melemah, harga suku cadang otomatis ikut naik. Ada beberapa jenis yang kenaikannya sampai 15 persen,” katanya.
Kondisi ini dikhawatirkan akan semakin memberatkan masyarakat, terutama bagi mereka yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk bekerja maupun menjalankan usaha sehari-hari.
Masyarakat berharap kenaikan harga tidak terus berlanjut. Selain menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pemerintah juga diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi komponen dalam negeri agar ketergantungan terhadap produk impor dapat berkurang.
Di sisi lain, pengawasan terhadap distribusi dan harga suku cadang di pasaran dinilai perlu diperkuat agar kenaikan harga tetap dalam batas yang wajar dan tidak semakin membebani konsumen. (KLIK-RED)