Home Pemerintah Gunung Mas Dinkes Gunung Mas Edukasi Warga tentang Bantuan Hidup Dasar, Ini Langkah yang Perlu Diketahui

Dinkes Gunung Mas Edukasi Warga tentang Bantuan Hidup Dasar, Ini Langkah yang Perlu Diketahui

  Akhmad Syahriansyah   | Minggu , 25 Oktober 2026
8ee0946fcb300ebfab62f4ac4d42ade1.jpg
Suasana sosialisasi dan edukasi BHD ke sejumlah ASN di Gunung Mas, pekan lalu. (Dinkes Gunung Mas)

KLIK. GUNUNG MAS – Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Mas (Gumas), Kalimantan Tengah, mengintensifkan sosialisasi dan edukasi bantuan hidup dasar (BHD) kepada masyarakat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam memberikan pertolongan awal pada kondisi kegawatdaruratan medis sebelum tenaga kesehatan tiba.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gumas, Waltiana, mengatakan edukasi tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kepercayaan diri masyarakat saat menghadapi situasi darurat di lingkungan sekitar.

“Edukasi itu untuk meningkatkan kepercayaan diri masyarakat, sehingga ketika menemukan kejadian darurat di lingkungan sekitar, mereka dapat langsung mengambil tindakan awal,” ucap Waltiana, Jumat (23/10/2026).

Menurut dia, waktu menjadi faktor penting ketika seseorang mengalami henti jantung. Respons yang cepat dan tepat, termasuk melakukan resusitasi jantung paru (RJP), dapat meningkatkan peluang korban untuk bertahan hidup sebelum bantuan medis tiba.

“Semakin cepat resusitasi jantung paru dilakukan, semakin besar pula peluang korban untuk selamat. Masyarakat tidak perlu ragu atau takut memberikan pertolongan pertama karena tindakan sederhana yang dilakukan secara benar dapat menyelamatkan nyawa seseorang,” terangnya.

Waltiana menjelaskan, pertolongan harus diawali dengan memastikan lingkungan sekitar aman bagi penolong dan korban. Selanjutnya, penolong dapat memeriksa respons korban dengan memanggilnya, meminta bantuan orang lain, menghubungi layanan darurat, serta memeriksa pernapasan selama tidak lebih dari 10 detik.

Masyarakat dapat menghubungi layanan Public Safety Center (PSC) 119 Gumas Siaga melalui nomor 0852-1221-2119 untuk meminta bantuan.

“Apabila korban tidak bernapas normal atau hanya megap-megap, kondisi tersebut patut dianggap sebagai henti jantung,” jelasnya.

Jika korban tidak responsif dan tidak bernapas normal, penolong perlu segera menghubungi layanan darurat dan memulai RJP sesuai kemampuan. Pada orang dewasa, kompresi dada dilakukan di tengah dada dengan kedalaman sekitar 5–6 sentimeter dan kecepatan 100–120 kali per menit.

Penolong yang terlatih dapat memberikan kombinasi 30 kompresi dada dan dua napas bantuan. Sementara itu, orang yang belum terlatih dapat melakukan kompresi dada saja sambil mengikuti arahan petugas layanan darurat.

Apabila tersedia alat automated external defibrillator (AED) atau defibrilator eksternal otomatis, penolong dapat menyalakannya dan mengikuti petunjuk suara pada alat. Penggunaan AED perlu dilakukan sesuai instruksi, termasuk memastikan tidak ada orang yang menyentuh korban saat alat menganalisis irama jantung atau memberikan kejutan listrik.

Waltiana juga mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pertolongan, menghindari penghentian kompresi terlalu lama, serta tidak memberikan makanan atau minuman kepada korban yang tidak sadarkan diri. Keselamatan penolong dan orang-orang di sekitar juga harus tetap diperhatikan.

“Kami berharap edukasi dan pelatihan BHD tersebut mampu memberi pengetahuan kepada masyarakat dalam penanganan kegawatdaruratan medis,” pungkasnya. (KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami