KLIK. SERUYAN – Ketua DPRD Seruyan Zuli Eko Prasetyo meminta pemerintah pusat mempertimbangkan Bandara Kuala Pembuang sebagai proyek strategis nasional (PSN) untuk meningkatkan infrastruktur dan fasilitasnya. Usulan ini disampaikan agar bandara tersebut dapat menjadi alternatif penerbangan di Kalimantan Tengah ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional bandara lain.
Zuli mengatakan, Bandara Kuala Pembuang relatif tidak terdampak kabut asap selama beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut dinilainya menjadi peluang untuk mengembangkan bandara itu sebagai salah satu pilihan transportasi udara di Kalimantan Tengah saat karhutla terjadi.
Sementara itu, sejumlah bandara di Kalteng, seperti Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya, Bandara H. Asan Sampit, serta Pangkalan Udara Iskandar di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, dilaporkan terdampak kabut asap. Kondisi tersebut dapat menghambat operasional penerbangan, mulai dari keterlambatan hingga pembatalan, bahkan pada waktu tertentu penerbangan tidak dapat dilayani.
“Kalau fasilitas sudah memadai, Bandara Kuala Pembuang bisa menjadi solusi atau alternatif aktivitas penerbangan di Kalimantan Tengah,” ujar Zuli, Selasa (20/10).
Menurutnya, kelancaran transportasi udara sangat penting untuk menunjang berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari pemerintahan, perekonomian, kegiatan sosial, hingga bisnis. Karena itu, keberadaan bandara alternatif dinilai dapat membantu menjaga konektivitas ketika kondisi kabut asap mengganggu penerbangan.
Zuli berharap Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Perhubungan dapat memberi perhatian terhadap pengembangan Bandara Kuala Pembuang. Ia mendorong peningkatan infrastruktur dan fasilitas agar bandara tersebut mampu melayani penerbangan nasional secara lebih optimal.
“Harapan kami, pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan bisa melirik Bandara Kuala Pembuang ini untuk dikembangkan. Dengan fasilitas yang memadai, bandara ini dapat menjadi alternatif penerbangan di Kalteng ketika terjadi bencana karhutla,” katanya.
Meski demikian, pengembangan Bandara Kuala Pembuang sebagai alternatif penerbangan regional maupun nasional memerlukan dukungan infrastruktur, fasilitas keselamatan, serta kesiapan operasional yang sesuai dengan kebutuhan layanan penerbangan. (KLIK-RED)