KLIK.SAMPIT – Warga Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kembali melaksanakan tradisi mandi safar Rabu sore (20/8). Tradisi turun-temurun ini digelar setiap Rabu terakhir bulan Safar dalam penanggalan Hijriah, yang diyakini sebagai simbol pembersihan diri sekaligus penolak bala.
Seperti terlihat di Jalan Baamang Tengah I, Kecamatan Baamang, sejak selesai salat asar warga berbondong-bondong menuju sungai dan tempat pemandian umum. Mereka beramai-ramai menceburkan diri ke dalam air sebagai bentuk mengikuti tradisi warisan leluhur.
”Setiap tahun saya ikut mandi safar, ini sudah kebiasaan dari orang tua kami dulu. Harapannya agar dijauhkan dari bala atau marabahaya dan diberi kesehatan,” ujar Sandy, salah seorang warga yang ikut dalam ritual tersebut.
Tradisi mandi safar di Sampit tidak hanya dimaknai sebagai ritual spiritual, tetapi juga menjadi momen kebersamaan warga. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak hingga orang dewasa.
”Alhamdulillah, selain dipercaya memiliki nilai spiritual, dengan mandi safar kami juga bisa saling bersilaturahmi. Mudah-mudahan kegiatan positif ini tetap bisa dilestarikan,” tambah Sandy.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim, Bima Eka Wardhana, menjelaskan bahwa mandi safar dipercaya masyarakat sebagai upaya membersihkan diri, baik lahir maupun batin.
”Mereka melaksanakan mandi bersama, dan pada momentum ini dipercaya dapat menyucikan tubuh sekaligus jiwa dari sifat-sifat buruk seperti dengki, hasut, fitnah, maupun adu domba,” jelas Bima.
Menariknya, ritual ini biasanya disertai penggunaan daun sawang yang dikalungkan di leher atau diikat di pinggang. Daun tersebut sebelumnya dirajah oleh alim ulama atau sesepuh adat. Hal itu diyakini agar peserta mandi safar terjaga keselamatannya, baik dari gangguan binatang maupun makhluk halus.
”Masyarakat yang mengikuti mandi safar biasanya membawa daun sawang yang sudah dirajah. Maksudnya agar keselamatan mereka terjaga,” tambah Bima.
Meski demikian, pemerintah daerah dan aparat keamanan tetap mengimbau masyarakat agar berhati-hati, terutama bagi yang melaksanakan tradisi ini di sungai. Pasalnya, potensi bahaya seperti arus deras maupun kemunculan buaya masih mungkin terjadi.
”Kami mengimbau masyarakat agar selalu waspada saat mandi di sungai. Bahaya bisa datang kapan saja, entah itu arus deras maupun kemunculan buaya,” tandas Bima.
Hingga kini, mandi safar tetap menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Sampit yang terus dijaga kelestariannya. Selain warga Sampit, tradisi ini juga dilaksanakan masyarakat di Kota Besi, Terantang, serta warga lainnya yang tinggal di bantaran sungai. Selain dipercaya membawa berkah, mandi safar juga mempererat silaturahmi antarwarga. (KLIK-RED)