KLIK.SAMPIT – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati, menyoroti rendahnya jumlah peserta didik di jenjang Sekolah Dasar (SD) dalam program Sekolah Rakyat (SR). Padahal, menurutnya, program ini merupakan solusi pendidikan yang layak bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu maupun yang putus sekolah.
“Sekolah Rakyat ini program yang sangat baik. Tapi kita juga harus evaluasi bagaimana menarik minat masyarakat agar bersedia menyekolahkan anak-anaknya ke sini. Termasuk pentingnya peran dan dorongan dari orang tua,” kata Irawati, Rabu (16/7).
Ia menyebut, berdasarkan kebijakan terbaru dari Kementerian Sosial (Kemensos), jenjang SD wajib ada dalam pelaksanaan program tersebut. Namun hingga kini, jumlah pendaftar masih sangat minim.
“Untuk jenjang SD, kami baru mendapat 14 anak. Padahal minimal harus 25 anak dalam satu rombongan belajar,” ujarnya.
Irawati juga menyoroti kebutuhan pendamping khusus bagi siswa SD yang masih kecil. Ia mengusulkan agar wali asuh atau baby sitter berasal dari daerah Kotim.
“Kami usulkan wali asuhnya dari Kotim sendiri, agar lebih memahami karakter dan lingkungan anak-anak di sini. Kalau dari luar daerah, kami khawatir tidak bisa menyesuaikan,” ucapnya.
Ia mengungkapkan, rendahnya minat bukan karena anak-anak menolak, tetapi karena orang tua yang belum sepenuhnya memahami konsep Sekolah Rakyat.
“Ada orang tua yang takut anaknya ditinggal, atau menganggap sekolah ini hanya untuk rakyat miskin. Padahal, semua kebutuhan anak ditanggung, termasuk makan dan perlengkapan harian,” jelasnya.
Irawati menambahkan, pendekatan kepada masyarakat akan terus dilakukan, terutama di Kecamatan Baamang, agar program ini tidak gagal karena minimnya dukungan.
“Saya sempat menemui anak yatim piatu yang tinggal dengan acil-nya. Tapi belum mau ikut karena acil-nya merasa kasihan melepas. Padahal ini program baik yang harus dimanfaatkan,” imbuhnya.
Sementara itu, untuk jenjang SMA, Sekolah Rakyat justru kelebihan peminat. Saat ini sudah ada 55 anak yang terdaftar dan siap mengikuti kegiatan belajar.
Irawati berharap masyarakat lebih terbuka terhadap program ini, sehingga tidak hanya anak usia SMA saja yang tertampung, tetapi juga anak-anak usia SD yang sangat membutuhkan pendampingan pendidikan sejak dini. (KLIK-RED)