Home Pemerintah Kotawaringin Timur Sungai Mentaya Dangkal, Kapal Besar Terancam Tak Bisa Sandar di Sampit

Sungai Mentaya Dangkal, Kapal Besar Terancam Tak Bisa Sandar di Sampit

  Sugianto   | Kamis , 18 September 2025
74503c6a6b8a7990b111ce213cab6966.jpg
Sebuah kapal cargo sandar di dermaga Pelabuhan Sampit, Sungai Mentaya, Kabupaten Kotawaringin Timur.

KLIK.SAMPIT – Pendangkalan Sungai Mentaya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin memprihatinkan. Alur pelayaran menuju Pelabuhan Sampit yang menjadi pintu utama perdagangan daerah terancam tidak bisa dilalui kapal besar jika pengerukan tak segera dilakukan.

Bupati Kotim, Halikinnor, menegaskan sedimentasi yang menumpuk bertahun-tahun menjadikan Sungai Mentaya dangkal dan berbahaya bagi aktivitas pelayaran.

“Sungai Mentaya ini besar dan lebar, tapi dangkal. Ini akibat sedimen yang sekian tahun tidak pernah dikeruk,” kata Halikinnor, Kamis (18/9).


Menurutnya, pengerukan sangat mendesak karena Kotim akan memasuki masa ekspansi besar di sektor perkebunan dan tambang. “Insya Allah tahun depan banyak hasil bumi kita sudah beroperasi. Kalau alur sungai tidak dibenahi, kapal besar tidak bisa masuk. Dampaknya jelas terhadap ekonomi daerah,” ujarnya.

Pemkab saat ini sudah menggandeng PT Indika Surabaya yang tengah menyelesaikan studi kelayakan. Selain itu, investor lain juga siap mendanai proyek strategis tersebut.

Rencana pengerukan bukan sekadar memperdalam alur lama, tapi juga membuka jalur baru sepanjang 16 mil dengan kedalaman 10 meter.

“Alur lama tetap ada dan tidak diganggu. Jadi masyarakat bisa memilih mau lewat alur lama atau baru. Bedanya, alur baru akan dikenakan biaya retribusi karena akan terus dipelihara,” jelas Halikinnor.

Kepala KSOP Kelas III Sampit, Hotman Siagian, turut menegaskan pentingnya pengerukan. “Sekarang kapal masih bisa beroperasi dengan draft enam meter, tapi ke depan harus segera dikeruk agar pelayaran tetap aman dan lancar,” ujarnya.

Masyarakat Kotim berharap proyek ini benar-benar terealisasi akhir 2025. Sebab, tanpa pengerukan, arus barang dan hasil bumi dikhawatirkan tersendat, yang bisa menjadi hambatan besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah. (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami