Home Berita Metropolis BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Kotim: Posisi Semu Matahari Jadi Biang!

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Kotim: Posisi Semu Matahari Jadi Biang!

  Sugianto   | Minggu , 19 Oktober 2025
0c372eda33478803b8456a432b08a5a0.jpg
Ilustrasi panas terik. (Dibuat dengan kecerdasan buatan)

KLIK.SAMPIT – Cuaca panas menyengat beberapa hari terakhir membuat banyak warga Kotawaringin Timur (Kotim) mengeluh gerah hingga enggan beraktivitas di luar ruangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit menjelaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar “cuaca panas biasa”, melainkan efek dari fenomena posisi semu Matahari yang kini bergerak ke wilayah selatan ekuator.

Prakirawan BMKG H Asan Sampit, Nadine Ayasha, mengatakan pergerakan posisi Matahari itu menyebabkan wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menerima paparan sinar yang jauh lebih intens.

“Ketika posisi Matahari berada dekat dengan wilayah selatan ekuator, intensitas penyinaran meningkat signifikan. Akibatnya, energi panas yang diterima permukaan bumi lebih besar, sehingga suhu udara pun terasa lebih tinggi,” jelas Nadine, Minggu (19/10).

Selain faktor posisi Matahari, angin timuran dari Benua Australia turut memperkuat efek panas ini. Angin tersebut membawa massa udara kering yang membuat pembentukan awan terhambat.

“Udara kering menurunkan kelembapan relatif, sehingga langit tampak cerah dan sinar matahari langsung menembus ke permukaan tanpa halangan,” ujarnya.

Akibatnya, permukaan tanah dan bangunan cepat menyerap panas, terutama pada siang hari, yang kemudian dipantulkan kembali dan menambah sensasi gerah bahkan hingga sore hari.

BMKG mencatat, meski sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan awal, proses pembentukan awan hujan di Kotim belum merata, sehingga sinar matahari tetap terasa sangat terik.

“Tanpa lapisan awan, energi panas tidak terhambat. Hal inilah yang membuat suhu udara di siang hari bisa mencapai hingga 37°C di beberapa daerah,” ungkap Nadine.

BMKG mengingatkan, paparan panas ekstrem dapat berdampak pada kesehatan, mulai dari dehidrasi, kelelahan, kulit terbakar (sunburn), hingga risiko heatstroke bila seseorang terlalu lama terpapar matahari tanpa perlindungan.

Untuk itu, masyarakat diimbau agar:
-Memperbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi.
-Menghindari aktivitas di luar ruangan pada pukul 10.00–16.00 WIB.
-Menggunakan pelindung diri seperti topi, payung, atau tabir surya.
-Mewaspadai perubahan cuaca mendadak seperti hujan petir dan angin kencang.

Nadine menjelaskan, fenomena panas seperti ini merupakan siklus tahunan yang normal terjadi. Pergerakan semu Matahari yang melintasi ekuator dua kali dalam setahun menyebabkan periode panas intens pada Maret–April dan Oktober–November.

“Kondisi ini alami dan bersifat sementara. Namun, masyarakat perlu menjaga kesehatan dan beradaptasi selama suhu tinggi berlangsung,” imbuhnya.

BMKG juga menegaskan agar masyarakat tidak panik menghadapi fenomena panas ekstrem ini. Dengan langkah pencegahan yang tepat, warga tetap bisa beraktivitas aman dan nyaman di tengah perubahan iklim tropis Indonesia. (KLIK-RED) 

Baca Juga

Ikuti Kami