KLIK.SAMPIT – Meski telah memasuki awal musim kemarau, sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih diguyur hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)Stasiun Meteorologi H Asan Sampit menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena atmosfer berskala global yang tengah aktif di wilayah Indonesia.
“Beberapa wilayah di Kotim masih mengalami hujan karena saat ini masih dalam masa peralihan musim,” ujar Prakirawan BMKG H Asan Sampit Nadine Ayasha, Kamis (19/6).
BMKG sebelumnya memprediksi bahwa musim kemarau di wilayah Kotim akan mulai terjadi pada dasarian kedua Juni 2025, atau sekitar 20 Juni. Namun, sejumlah faktor dinamika atmosfer menyebabkan hujan masih tetap turun.
Nadine menjelaskan, salah satu pemicu utamanya adalah fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), yakni sistem gangguan atmosfer tropis yang memengaruhi proses pembentukan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia.
“MJO sedang aktif dan berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan, termasuk di Kotim, meskipun secara umum telah memasuki musim kemarau,” jelasnya.
Selain MJO, faktor lain yang memengaruhi kondisi cuaca adalah adanya bibit siklon tropis di utara Kalimantan. Keberadaan sistem ini turut mendorong pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotim.
“Bibit siklon ini cukup memengaruhi cuaca di Kalimantan. Saat ini, pertumbuhan awan masih cukup aktif,” tambahnya.
Nadine menekankan bahwa musim kemarau tidak selalu berarti cuaca akan kering total. Dalam kondisi tertentu, hujan tetap berpotensi terjadi, meskipun dengan intensitas yang lebih rendah dibandingkan musim hujan.
“Musim kemarau bukan berarti tidak hujan sama sekali. Dalam kondisi tertentu seperti sekarang, hujan masih mungkin turun, walau tidak merata,” katanya.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi hujan lebat yang bisa disertai petir dan angin kencang, terutama di masa peralihan musim seperti saat ini.(KLIK-RED)