Home Berita Metropolis 11 Kejadian Karhutla Terjadi di Kotim Sepanjang 2025, Dalam Kota Sampit Jadi Titik Rawan

11 Kejadian Karhutla Terjadi di Kotim Sepanjang 2025, Dalam Kota Sampit Jadi Titik Rawan

  Redaksi   | Selasa , 24 Juni 2025
6718d4b20a2bbdc639c5574a434e92c5.jpg
Petugas BPBD memadamkan api di areal gambut di Kotawaringin Timur

KLIK.SAMPIT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat sebanyak 11 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak Januari hingga Juni 2025. Mayoritas kebakaran terjadi di wilayah perkotaan Sampit, terutama di Kecamatan Baamang dan Ketapang.

“Berdasarkan data kami, sementara ini sudah terjadi 11 titik kejadian kebakaran hutan selama tahun 2025,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Selasa (24/6).

Menurut Multazam, intensitas karhutla saat ini masih belum tergolong masif jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan wilayah Kotim masih berada dalam masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, sesuai prakiraan cuaca dari BMKG.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kejadian tersebut menjadi sinyal penting bagi semua pihak agar lebih waspada terhadap potensi karhutla ke depan.

“Tentu ini menjadi atensi kita bersama. Meski kebakaran lahan belum begitu masif, kita tetap harus waspada,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan pengalaman dan temuan di lapangan, sebagian besar karhutla di Kotim disebabkan oleh aktivitas manusia. Kesadaran masyarakat dalam mencegah kebakaran lahan masih perlu ditingkatkan.

“Contohnya di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, tumbuhan di bahu jalan sangat mudah terbakar dan penyebarannya cepat sekali. Wilayah selatan Kotim merupakan lahan gambut yang mudah terbakar. Kami harap masyarakat sadar untuk tidak membakar lahan,” tegasnya.

Sebagai langkah antisipasi, sejak 11 Juni lalu, BPBD Kotim bersama Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BP-BPK) Kalimantan Tengah mengaktifkan pos lapangan Masyarakat Peduli Api (MPA) di 77 titik.

“Khusus untuk Kotim, ada delapan MPA yang telah dibentuk dan diaktifkan secara bersamaan, yakni di Kecamatan Pulau Hanaut, Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Seranau, Kota Besi, Cempaga, dan Parenggean,” jelas Multazam.

Setiap pos MPA terdiri dari lima warga, dibantu oleh personel TNI (Babinsa) dan Polri (Bhabinkamtibmas) setempat. Mereka bertugas melakukan patroli harian, deteksi dini, serta penanggulangan jika terjadi kebakaran.

“Dengan adanya pos lapangan ini, kami harap deteksi dini bisa ditingkatkan sehingga penanganan karhutla bisa lebih cepat dan tidak meluas,” imbuhnya.

Multazam memastikan, jika terjadi kebakaran dalam skala besar, BPBD Kotim akan turun langsung membantu penanganan di lapangan.

“BPBD Kotim tidak akan tinggal diam apabila terjadi eskalasi yang cukup luas,” tegasnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk turut aktif mencegah karhutla. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan, antara lain tidak membakar lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan, dan segera melapor jika melihat indikasi kebakaran kepada aparat atau posko siaga BPBD.

“Kami terus mengimbau agar masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan dari bahaya karhutla. Pencegahan jauh lebih penting sebelum kejadian meluas,” tutup Multazam. (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami