KLIK.SAMPIT – Musim kemarau tahun 2025 di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diprediksi berlangsung lebih pendek dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ancaman kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) diperkirakan akan meningkat.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Bandar Udara H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa musim kemarau akan dimulai secara bertahap di Kotim, yakni wilayah selatan pada Juni dasarian II, wilayah tengah pada Juni dasarian III, dan wilayah utara pada Juli dasarian I.
"Untuk tiga wilayah ini, awal musim kemaraunya berbeda-beda," ujar Leo Nardo, Senin (28/4).
Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2025. Meski durasi kemarau tahun ini lebih singkat dibandingkan 2024, kondisi kekeringan diprediksi lebih parah karena kemarau berlangsung normal, tanpa pengaruh fenomena La Nina yang tahun lalu menyebabkan kemarau basah.
"Potensi kebakaran tahun ini lebih tinggi karena kemarau bersifat netral, sehingga curah hujan akan lebih sedikit," tambah Leo Nardo.
Saat ini, Kotim masih berada dalam musim hujan hingga Mei 2025. Memasuki akhir Mei, wilayah ini akan mulai mengalami musim pancaroba atau peralihan menuju kemarau.
"Meski hujan dengan intensitas sedang masih terjadi, itu merupakan tanda peralihan ke musim kemarau," katanya.
Di sisi lain, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam, menyatakan pihaknya telah memperluas kewaspadaan menghadapi musim kemarau tahun ini.
Menurut Multazam, selain meningkatkan risiko karhutla, kekeringan juga berpotensi mengganggu produksi pertanian, yang menjadi bagian penting dalam mendukung program swasembada pangan nasional.
"Musim kemarau yang terlalu panas akan berdampak pada hasil tanaman. Oleh karena itu, kita perlu mengantisipasi kemungkinan kekeringan di sektor pertanian," ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya menjaga ketersediaan air guna memastikan tanaman tetap subur hingga masa panen.
"Kalau tahun lalu fokus kita lebih banyak pada karhutla, tahun ini kita juga harus waspada terhadap dampak kekeringan di lahan pertanian," tutup Multazam. (KLIK-RED)