KLIK.SAMPIT – Suasana penuh kebersamaan tampak di halaman Masjid Al Madinatul Mubaraqah, Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (6/7). Puluhan warga dari berbagai kalangan bergotong royong memasak bubur Asyura dalam rangka memperingati 10 Muharram atau Tahun Baru Islam.
“Alhamdulillah, hari ini kami membuat bubur Asyura untuk memperingati Tahun Baru Islam,” ujar Marudin, salah seorang panitia kegiatan.
Tradisi yang terus dilestarikan ini menjadi ajang silaturahmi tahunan. Berdasarkan pantauan di lokasi, proses memasak bubur dilakukan secara gotong royong. Kaum ibu sibuk menyiapkan bahan, sedangkan para pria bertugas mengaduk bubur dalam kuali besar.
Marudin menyebutkan, kegiatan ini telah menjadi rutinitas setiap Muharram. Warga berkumpul, memasak bersama, dan membagikan bubur Asyura kepada masyarakat secara gratis.
“Bubur ini dimasak dari puluhan bahan seperti kacang-kacangan, sayur-mayur, daging, dan berbagai rempah. Ini mencerminkan keberagaman dan kebersamaan,” ucapnya.
Tahun ini, panitia memasak bubur Asyura sebanyak tiga kuali besar. Setelah matang, bubur langsung dibagikan kepada masyarakat sekitar tanpa dipungut biaya. Tradisi ini pun menjadi simbol kepedulian sosial, semangat gotong royong, serta pelestarian nilai-nilai keislaman yang diwariskan secara turun-temurun.
“Bubur ini bukan sekadar makanan, tapi bentuk rasa syukur dan kepedulian. Semoga terus dilestarikan,” kata Marudin.
Usai dimasak, bubur langsung dibagikan ke warga. Tak jarang, porsi yang disiapkan mencapai ratusan hingga ribuan mangkuk. Tradisi ini juga dilaksanakan di beberapa lokasi lain di Sampit, seperti di Jalan Ir. Juanda.
Tradisi bubur Asyura membuktikan bahwa nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal masih tumbuh subur di tengah masyarakat.
Mahmud, salah seorang warga, mengaku bersyukur tradisi ini masih dipertahankan.
“Ini menjadi momen mempererat kebersamaan. Rasanya khas dan hanya bisa dinikmati saat Hari Asyura,” tuturnya. (KLIK-RED)