Home Peristiwa Titik Panas di Kalteng Fluktuatif, BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla Belum Berakhir

Titik Panas di Kalteng Fluktuatif, BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla Belum Berakhir

  Redaksi   | Sabtu , 31 Oktober 2026
d0a5330fe50a736e7fed3b88bed38880.jpg
Peta sebaran tirik panas di Kalimantan Tengah, Jumat (30/10). (BMKG)

KLIK. PALANGKA RAYA – Sebaran titik panas atau hotspot di Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami perubahan signifikan selama peralihan menuju musim hujan. Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya berakhir.

Data satelit menunjukkan, jumlah titik panas pada 24 Oktober 2026 mencapai 8.053 titik. Angka tersebut turun tajam menjadi 11 titik pada 27 Oktober setelah hujan turun dan upaya pemadaman dilakukan.

Namun, jumlahnya kembali meningkat menjadi 1.130 titik pada 30 Oktober 2026. Perubahan tersebut menunjukkan perlunya pemantauan berkelanjutan terhadap wilayah yang masih berpotensi mengalami kebakaran.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Chandra Mukti Wijaya, mengingatkan pentingnya mitigasi karhutla meskipun hujan mulai mengguyur sejumlah daerah.

Ia meminta pemadaman dilakukan hingga tuntas pada setiap titik panas yang terindikasi sebagai titik api aktif. Pemantauan titik panas, pembasahan lahan gambut, dan kesiapsiagaan petugas juga perlu terus dilakukan.

"Pemadaman tuntas seluruh hotspot yang terindikasi titik api aktif dengan terus memantau HS dari BMKG, pembasahan gambut secara intensif serta pertahankan kesiapsiagaan sampai hujan persisten hingga berakhirnya ancaman karhutla," kata Chandra.

Menurutnya, kondisi lahan gambut tetap perlu mendapat perhatian. Permukaan lahan yang terlihat basah setelah hujan belum tentu menunjukkan lapisan gambut di bawahnya sudah cukup lembap.

Sebelumnya, kombinasi suhu udara tinggi, kelembapan rendah, dan minimnya curah hujan membuat lapisan gambut permukaan mudah mengering. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.

Di sisi lain, dinamika atmosfer turut mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalimantan. Faktor labilitas lokal, kelembapan udara, serta perlambatan kecepatan angin atau konvergensi menjadi bagian dari kondisi meteorologi yang memengaruhi pembentukan awan hujan.

Perubahan cuaca tersebut perlu diikuti kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan tetap memperhatikan informasi serta peringatan cuaca dari BMKG.
(KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami