KLIK.SAMPIT – Di tengah derasnya arus modernisasi, sebagian masyarakat masih setia menjaga warisan budaya leluhur. Salah satunya adalah Syahri Findy, kolektor sekaligus pengrajin mandau asal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang menjadikan benda warisan suku Dayak ini sebagai pengingat jati diri dan simbol kebanggaan.
Di rumahnya, ratusan bilah mandau tersusun rapi. Setiap bilah menyimpan kisah, nilai, dan perjalanan sejarah yang panjang.
“Sebagian besar mandau yang saya miliki merupakan mandau lama. Ada satu dohong yang usianya diperkirakan mencapai ratusan tahun, diwariskan turun-temurun dari Hulu Mentaya hingga kini sudah delapan generasi,” ujarnya, Sabtu (11/10).
Bagi Syahri, mandau bukan sekadar senjata, melainkan karya seni tinggi yang sarat makna dan filosofi.
“Saya senang kalau mandau itu punya asal-usul. Ada ceritanya, ada sejarahnya. Itu yang membuatnya hidup dan berbeda dari benda lain,” tuturnya.
Selain menyimpan koleksi pribadi, Syahri juga membuka ruang bagi para pengrajin lokal untuk menitipkan hasil karya mereka di galerinya. Tak sedikit karya pengrajin Kotim yang kini dikenal hingga ke mancanegara.
“Saya punya teman-teman pengrajin mandau di Kotim. Mereka menitipkan hasil karyanya di sini. Sebagian untuk koleksi, sebagian lagi dijual. Bahkan ada yang dari anyaman rotan sudah sampai ke luar negeri,” katanya dengan bangga.
Namun, di balik semangat pelestarian itu, Syahri mengaku prihatin dengan menurunnya minat generasi muda terhadap budaya tradisional.
“Sekarang banyak anak muda yang kurang tertarik dengan benda tradisional seperti mandau. Padahal, mandau itu bukan sekadar benda mistik, tapi simbol keindahan, keberanian, dan kearifan lokal suku Dayak,” ujarnya.
Sebagai bentuk pelestarian budaya, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIII menggelar Pameran Warisan Budaya ‘Mandau Penyang Pambelum’ di Museum Kayu Sampit pada 10–11 Oktober. Pameran ini menampilkan beragam jenis mandau dan karya budaya masyarakat Dayak dari berbagai wilayah Kalimantan Tengah.
Syahri berharap, melalui kegiatan ini masyarakat dapat melihat mandau dari sisi yang lebih positif bukan sebagai benda sakral atau menakutkan, tetapi sebagai karya seni yang mencerminkan identitas dan estetika tinggi.
“Mandau itu indah, bukan menakutkan. Ia adalah simbol warisan budaya yang harus kita rawat dan banggakan,” tandasnya. (KLIK-RED)