KLIK.SAMPIT – Cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir menjelang libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru) menyebabkan pendistribusian bahan kebutuhan pokok (bapok) di pasaran mengalami keterlambatan.
Salah seorang distributor bapok di Sampit, Benny, menyatakan bahwa akhir-akhir ini pendistribusian barang dari agen ke distributor sering terlambat.
"Pendistribusian barang dari agen memang agak lambat belakangan ini, terutama barang yang berasal dari luar daerah seperti Pulau Jawa. Kami di toko juga tidak mengetahui pasti alasan keterlambatan tersebut," kata Benny, Rabu (18/12).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Tengah sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan sedang hingga lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang menjelang Nataru.
Benny menduga, salah satu penyebab utama keterlambatan pendistribusian barang adalah kondisi cuaca yang kurang bersahabat, seperti tingginya intensitas hujan dan angin kencang.
"Kondisi cuaca ekstrem seperti ini kemungkinan besar menjadi penyebab keterlambatan distribusi barang," ujarnya.
Selain itu, keterlambatan pendistribusian juga berdampak pada pedagang eceran yang menjadi pelanggan distributor. Hal ini menyebabkan kekosongan stok beberapa produk, yang berpotensi menurunkan kepuasan pelanggan.
"Sudah menjadi hal yang lumrah menjelang akhir tahun, harga-harga cenderung naik. Salah satu produk yang sudah mengalami kenaikan adalah kopi dan telur," ungkap Benny.
Ia juga mendapatkan informasi dari para sales bahwa beberapa produk lain akan mengalami kenaikan harga secara bertahap pada Januari 2025 mendatang.
"Kenaikan harga bapok di momen Nataru ini tentu berdampak pada daya beli masyarakat. Akibatnya, omzet penjualan di toko kami cenderung menurun," tambahnya.
Benny mencontohkan, salah satu komoditas yang terdampak adalah beras. Banyak lahan pertanian di Jawa mengalami gagal panen akibat bencana banjir, yang kemudian memengaruhi harga beras di berbagai daerah, termasuk Sampit.
"Kenaikan harga barang ini biasanya kami atasi dengan menyesuaikan harga jual. Namun, menaikkan harga juga berisiko menurunkan volume penjualan," tutupnya. (KLIK-RED)