Home Pemerintah Kotawaringin Timur Alarm Serius! Gangguan Mental Ringan Dialami Lebih dari 100 Pelajar SMP di Kotim

Alarm Serius! Gangguan Mental Ringan Dialami Lebih dari 100 Pelajar SMP di Kotim

  Sugianto   | Senin , 22 September 2025
df5b77df9aafdf0adaff54286126bd5a.jpg
Ilustrasi. (Dibuat dengan kecerdasan buatan)

KLIK.SAMPIT- Hasil pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan. Lebih dari 100 pelajar tingkat sekolah menengah pertama (SMP) terdeteksi mengalami gangguan kesehatan jiwa ringan.

Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi, menjelaskan bahwa fenomena ini biasanya lebih sering dijumpai pada orang dewasa. Namun, kini tanda-tanda gangguan mental justru mulai muncul di kalangan remaja.

"Ini pelajar SMP, dan jumlahnya cukup tinggi. Walaupun masih tergolong ringan, tetap harus ditindaklanjuti karena penyebab pastinya belum kita ketahui," kata Umar, Senin (22/9)

Selain pemeriksaan mental, Dinkes juga melakukan deteksi dini kesehatan fisik, mulai dari pemeriksaan darah, gula darah, hingga pengecekan adanya benjolan pada tubuh. Setiap anak rata-rata membutuhkan waktu 15 menit untuk pemeriksaan lengkap.

Umar menambahkan, faktor pemicu gangguan mental pada remaja bisa beragam. Tekanan belajar, perundungan (bullying), masalah keluarga, hingga lingkungan pergaulan kerap menjadi pemicu. Karena itu, ia menegaskan pentingnya kerja sama semua pihak.

"Dinkes akan melakukan survei lebih mendalam untuk menemukan penyebab utama. Begitu terungkap, kami akan melakukan intervensi agar tidak semakin parah dan bisa segera ditangani," jelasnya.

Fenomena ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan dan orang tua. Remaja yang sedang dalam masa pencarian jati diri rentan mengalami tekanan emosional. Jika tidak ditangani sejak dini, hal ini bisa berdampak pada prestasi, pergaulan, bahkan masa depan mereka.

Umar mengingatkan, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, guru diminta menciptakan suasana belajar yang sehat, dan masyarakat harus mendukung lingkungan yang bebas dari perundungan.

"Permasalahan ini penting untuk kerja sama semua pihak, baik sekolah, keluarga, maupun masyarakat, agar anak-anak kita tumbuh sehat lahir dan batin," tandas Umar (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami