KLIK.SAMPIT – Warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) digemparkan oleh kasus pembunuhan sadis terhadap seorang mahasiswi asal Desa Merah, Kecamatan Tualan Hulu. Polisi menetapkan seorang perangkat desa berinisial J (27) sebagai tersangka utama dalam kasus tersebut.
Hasil penyelidikan mengungkap, pelaku tega menghabisi nyawa korban yang juga kekasihnya sendiri lantaran sang mahasiswi menolak permintaan untuk menggugurkan kandungan hasil hubungan mereka.
Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Kasatreskrim Polres Kotim AKP Iyudi Hartanto menyampaikan bahwa pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dan mengakui seluruh perbuatannya.
“Pelaku sudah kami amankan dan mengakui perbuatannya. Motifnya karena korban menolak permintaan pelaku untuk menggugurkan kandungan,” ujar Iyudi dalam konferensi pers di Mapolres Kotim, Senin (6/10).
Kasus ini bermula pada Jumat (3/10) sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, pelaku menghubungi korban dan mengajaknya bertemu di kawasan sepi di Jalan Desa Merah, tepatnya di dekat lapangan voli yang jauh dari jalan utama dan minim penerangan.
Pelaku datang dengan membawa tali berwarna biru yang diambil dari jaring ikan di rumahnya.
“Berdasarkan pengakuannya, tali itu sudah dipersiapkan untuk digunakan apabila korban menolak permintaannya,” jelas Iyudi.
Setibanya di lokasi, keduanya sempat terlibat perdebatan sengit. Korban yang duduk di atas motor disebut marah dan berteriak saat pelaku kembali memaksa menggugurkan kandungan.
Karena emosi dan panik, pelaku kemudian menganiaya korban hingga tewas di tempat kejadian.
Setelah memastikan korban tidak bernyawa, pelaku berusaha menghapus jejak dengan mengambil telepon genggam korban dan membuangnya ke Sungai Mentaya, wilayah Desa Tumbang Boloi, Kecamatan Antang Kalang.
“Kami juga telah mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian,” tambahnya.
Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup, subsider Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan.
Pihak kepolisian memastikan akan mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar, termasuk menelusuri latar belakang hubungan antara pelaku dan korban.
Peristiwa tragis ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan dan pemerintahan desa, bahwa jabatan maupun status sosial tidak dapat menutupi kejahatan yang dilakukan dengan perencanaan keji. (KLIK-RED)