KLIK.SAMPIT – Rasa cemas mulai menghantui para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kabar pemangkasan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) merebak luas seiring penyesuaian belanja pegawai akibat tekanan fiskal daerah.
TPP yang selama ini menjadi penopang utama keuangan para ASN, kini terancam dikurangi. Salah seorang ASN berinisial JK (39) dari dinas pelayanan publik mengaku sudah menghitung ulang keuangan rumah tangganya sejak mendengar isu ini.
"Kami sudah hitung-hitung cicilan rumah, biaya anak sekolah, dan lainnya dengan asumsi TPP full. Kalau dipotong, jelas berat. Gaji pokok saja tidak cukup menutup semuanya," keluhnya, Kamis (24/7).
Bagi banyak ASN golongan muda dan menengah, TPP bukan sekadar tambahan, tapi penopang utama dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Kabar pemangkasan ini memicu kepanikan tersendiri.
"Kalau dikurangi saja sudah bikin pusing, apalagi dihapuskan. Bagaimana saya bayar cicilan rumah dan sekolah anak?" tambahnya.
Ia berharap pemerintah daerah tidak serta-merta memotong TPP tanpa solusi yang jelas bagi pegawai yang terdampak.
"Kalau memang harus dikurangi, tolong beri kami jalan keluar. Jangan langsung diputus begitu saja," tegasnya.
Sebelumnya, Bupati Kotim Halikinnor menyampaikan bahwa penyesuaian belanja pegawai, termasuk TPP, merupakan bagian dari upaya menyesuaikan belanja daerah agar tidak melampaui batas maksimal yang ditetapkan pemerintah pusat.
"Saat ini posisi kita masih 35 persen. Jadi pada perubahan kemarin kita geser mengurangi menjadi tiga persen. Tahun 2026 akan kita kurangi lagi belanja pegawai, khususnya TPP, agar 2027 sesuai dengan aturan pemerintah pusat," ungkap Halikinnor.
Meski belum ada pengumuman resmi mengenai waktu dan besaran pengurangan TPP, kecemasan di kalangan ASN sudah meluas. Banyak di antaranya mulai menyusun ulang prioritas keuangan, khawatir pengurangan TPP akan mempengaruhi stabilitas ekonomi keluarga mereka.
Bagi ASN di Kotim, TPP adalah lebih dari sekadar tunjangan. Itu adalah harapan akan kehidupan yang sedikit lebih stabil di tengah tingginya biaya hidup dan tuntutan pekerjaan. (KLIK-RED)