KLIK.SAMPIT – Hanya doa yang tersisa ketika Tugboat Datine 138 perlahan tenggelam di perairan Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Di tengah Laut Jawa yang luas, Ode (61), sang kapten, berjuang sendirian melawan maut selama enam jam sebelum akhirnya diselamatkan nelayan.
Musibah itu terjadi pada Senin (6/10). Kapal yang dikemudikan Ode bersama tiga anak buah kapal (ABK) tenggelam setelah mengalami kebocoran hebat di bagian lambung. Cuaca saat itu terlihat bersahabat, tanpa tanda bahaya. Namun, ketenangan laut berubah menjadi kepanikan ketika air laut mulai merembes deras ke dalam kapal.
“Saya mau masuk ke Pagatan, tapi sudah tidak bisa. Bocornya kuat, air terus masuk, mesin tidak bisa dikendalikan. Akhirnya kapal tenggelam,” kenang Ode, Sabtu (11/10).
Dalam situasi genting itu, empat awak kapal berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Ode sempat meraih liferaft, alat penyelamat darurat yang menjadi satu-satunya tumpuannya bertahan hidup.
“Di liferaft itu ada parasut, kembang api, air mineral, roti, dan obat-obatan. Saya berpegangan di situ selama enam jam,” ujarnya dengan suara bergetar.
Selama terombang-ambing, hanya doa yang mampu ia panjatkan. Laut yang biasanya menenangkan kini terasa begitu asing dan menakutkan. Tak ada kapal lain yang melintas, hanya hamparan air sejauh mata memandang.
“Ketakutan pasti ada, tapi mau takut sama siapa lagi? Saya cuma bisa doa. Pasrah hidup dan mati,” ucapnya lirih.
Arus laut menyeret tubuhnya ke arah yang tak tentu. Sesekali ia berteriak meminta tolong, berharap ada yang mendengar.
“Saya panggil-panggil, siapa tahu ada yang dengar. Tapi yang jawab cuma angin dan ombak,” kisahnya dengan mata berkaca-kaca.
Sekitar pukul 08.00 pagi, ketika tubuhnya mulai lemas dan tangan hampir terlepas dari liferaft, suara mesin kapal terdengar samar. Sekelompok nelayan yang melintas mendengar teriakannya.
“Awalnya mereka mengira itu bangkai kapal yang hanyut. Rupanya saya masih hidup, bergantung di liferaft. Untung mereka dengar suara saya. Kalau tidak, mungkin saya sudah habis,” ujarnya.
Nelayan itu segera mengevakuasi Ode dan membawanya ke daratan. Tubuhnya lemah, kulitnya mengeriput, kaki kram, namun kesadarannya masih utuh.
“Saya cuma bisa bilang, terima kasih. Allah masih kasih saya hidup,” ungkapnya penuh haru.
Kini, Ode mulai pulih. Namun, bayangan kejadian itu masih menghantui. Malam hari, ia kerap terbangun karena seolah mendengar suara ombak di kepalanya. Meski begitu, ia memilih tetap bertahan di Sampit untuk membantu pencarian tiga rekannya yang belum ditemukan.
“Saya bersyukur masih hidup. Tapi saya sedih, tiga teman saya belum kembali. Hidup atau mati, saya ingin mereka ditemukan. Itu saja harapan saya,” tandasnya.
Sementara itu, tim gabungan dari BPBD, Polairud, dan nelayan setempat masih terus melakukan pencarian di sekitar perairan Ujung Pandaran. Hingga kini, dua jenazah korban diduga telah ditemukan dan masih dalam proses identifikasi. (KLIK-RED)