Home Pemerintah Kotawaringin Timur Harga Telur Anjlok, Pemkab Kotim Cari Jalan Tengah Selamatkan Peternak

Harga Telur Anjlok, Pemkab Kotim Cari Jalan Tengah Selamatkan Peternak

  Sugianto   | Senin , 29 Juni 2026
039d8c85bfd095cf9f1d36b4b692c3d8.jpg
Wakil Bupati Kotim Irawati saat diwawancara pekerja media usai inspeksi mendadak ke sejumlah agen telur di Sampit, Senin (29/6).(Sugianto /Klikkalteng.id)

KLIK.SAMPIT – Penurunan harga telur ayam ras di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim. Harga jual yang terus merosot dikhawatirkan mengancam keberlangsungan usaha peternak lokal, sehingga pemerintah bergerak mencari solusi yang dapat melindungi peternak tanpa mengabaikan kepentingan konsumen.

 

Sebagai langkah awal, Wakil Bupati Kotim Irawati meninjau langsung sejumlah distributor dan agen telur di Sampit, Senin (29/6). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi rantai distribusi sekaligus mengumpulkan data terkait harga telur di tingkat pelaku usaha.

 

Dari hasil peninjauan sementara, diketahui harga jual telur dari distributor kepada agen berada di kisaran Rp26.500 per kilogram atau sekitar Rp245 ribu per ikat berisi enam sap. Temuan tersebut akan menjadi bahan pembahasan dalam pertemuan yang melibatkan peternak, distributor, agen, DPRD, dan instansi terkait.

 

Menurut Irawati, pemerintah berupaya mencari jalan tengah agar semua pihak dapat memperoleh manfaat secara seimbang. Di satu sisi, peternak harus tetap memperoleh keuntungan yang layak agar usahanya bisa bertahan. Di sisi lain, masyarakat juga harus tetap mendapatkan telur dengan harga yang terjangkau.

 

"Kita tidak ingin ada pihak yang dirugikan. Peternak harus tetap bisa bertahan, tetapi masyarakat juga harus memperoleh telur dengan harga yang wajar," ujarnya.

 

Ia menjelaskan, harga acuan yang ditetapkan pemerintah pusat tetap menjadi pedoman. Namun penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan biaya distribusi di Kalimantan Tengah agar kebijakan yang diambil lebih realistis.

 

Selain menyusun kesepakatan harga, Pemkab Kotim juga akan meningkatkan pengawasan terhadap rantai distribusi. Langkah tersebut dilakukan agar penurunan harga dari distributor benar-benar dirasakan masyarakat dan tidak berhenti di salah satu mata rantai perdagangan.

 

"Kita akan mengawasi bersama. Jangan sampai harga sudah turun di distributor, tetapi masyarakat tetap membeli dengan harga yang tinggi," tegasnya.

 

Irawati menilai keberlangsungan peternak ayam petelur lokal sangat penting bagi ketahanan pangan daerah. Jika semakin banyak peternak menghentikan usahanya akibat terus merugi, pasokan telur di Kotim akan semakin bergantung pada daerah lain, yang berpotensi memengaruhi stabilitas harga di masa mendatang.

 

Sementara itu, salah seorang distributor mengungkapkan harga telur saat ini merupakan salah satu yang terendah dalam beberapa bulan terakhir. Pasokan telur yang dipasarkan masih didatangkan dari Pulau Jawa dengan kebutuhan sekitar 2.000 ikat setiap bulan untuk memenuhi permintaan di Kotim.

 

Meski harga sudah turun, kondisi pasar dinilai belum sepenuhnya pulih. Daya beli masyarakat masih relatif rendah sehingga permintaan belum mengalami peningkatan yang signifikan.

 

"Dengan harga sekarang saja pembeli masih relatif sepi. Namun kami juga memahami kondisi peternak yang terdampak akibat harga terus turun," katanya.

 

Melalui forum yang akan digelar dalam waktu dekat, Pemkab Kotim berharap dapat menghasilkan kesepakatan yang mampu menjaga keseimbangan pasar, melindungi peternak lokal, serta memastikan masyarakat tetap memperoleh telur dengan harga yang wajar (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami