Home Pemerintah Kotawaringin Timur Tak Ada Lagi Anak Miskin Putus Sekolah, Sekolah Rakyat Mulai Beroperasi di Kotim

Tak Ada Lagi Anak Miskin Putus Sekolah, Sekolah Rakyat Mulai Beroperasi di Kotim

  Sugianto   | Kamis , 30 Juli 2026
17c6a08a604dac21458661c9e82c41ae.jpg
Suasana registrasi murid baru saat Open House dan Pra Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Pra-MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kotim, Kamis (30/7). (Sugianto/Klikkalteng.id)

KLIK.SAMPIT – Harapan agar tidak ada lagi anak putus sekolah karena keterbatasan ekonomi mulai diwujudkan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sekolah Rakyat Terintegrasi kini resmi mulai beroperasi sebagai wadah pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Program yang digagas pemerintah pusat ini diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kategori desil 1 hingga 5. Seluruh kebutuhan peserta didik ditanggung negara, mulai dari biaya pendidikan, tempat tinggal di asrama, makan, perlengkapan belajar, hingga fasilitas penunjang berbasis teknologi.

Bupati Kotim Halikinnor menegaskan, setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan tanpa terkendala kondisi ekonomi keluarga.

"Kami berharap tidak ada lagi anak yang putus sekolah karena alasan ekonomi. Negara hadir agar mereka tetap bisa belajar, mengembangkan potensi, dan memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik," ujar Halikinnor usai menghadiri Open House dan Pra Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Pra-MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kotim, Kamis (30/7).

Sekolah Rakyat menerapkan sistem pendidikan berasrama dengan fasilitas yang dirancang untuk mendukung proses belajar secara optimal. Setiap siswa mendapatkan tempat tinggal, makan tiga kali sehari ditambah dua kali makanan selingan, perlengkapan sekolah, hingga laptop sebagai sarana pembelajaran.

Menurut Halikinnor, program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga menjadi strategi pemerintah dalam mengurangi kemiskinan ekstrem. Selain membiayai pendidikan anak, pemerintah juga memberikan pendampingan kepada orang tua melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi agar kesejahteraan keluarga ikut meningkat.

Jumlah peserta didik yang mengikuti program tersebut juga terus bertambah. Pada angkatan pertama, Sekolah Rakyat menerima 100 siswa yang terdiri atas 50 siswa jenjang SMP dan 50 siswa jenjang SMA. Memasuki tahun ajaran 2026/2027, jumlah peserta meningkat menjadi 270 siswa, yakni 50 siswa SD, 117 siswa SMP, dan 103 siswa SMA.

Peningkatan jumlah siswa tersebut menunjukkan semakin besarnya minat sekaligus kebutuhan masyarakat terhadap layanan pendidikan gratis yang disediakan pemerintah.

Saat ini kegiatan belajar mengajar masih dilaksanakan di Gedung Islamic Center Sampit sebagai lokasi sementara. Namun, pemerintah memastikan seluruh aktivitas nantinya akan dipindahkan ke kompleks Sekolah Rakyat Terintegrasi yang proses pembangunannya telah memasuki tahap akhir.

"Jika tidak ada kendala, seluruh jenjang pendidikan akan mulai menempati gedung baru sekitar September hingga Oktober mendatang," jelasnya.

Untuk menjaring peserta didik, pemerintah melibatkan Dinas Sosial bersama para pendamping sosial. Langkah ini dilakukan karena masih banyak keluarga sasaran yang belum memahami konsep Sekolah Rakyat maupun berbagai fasilitas yang diberikan secara gratis.

Melalui kegiatan open house, masyarakat diajak melihat langsung ruang belajar, asrama, serta berbagai fasilitas yang akan digunakan para siswa. Pemerintah berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat sehingga semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan yang layak.

Keberadaan Sekolah Rakyat diharapkan menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia di Kotawaringin Timur. Selain menekan angka putus sekolah, program ini diharapkan mampu membuka peluang yang lebih besar bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk meraih masa depan yang lebih baik dan keluar dari lingkaran kemiskinan. (KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami