KLIK.SAMPIT - Hujan menjadi harapan masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) di tengah kemarau panjang yang disertai meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Cuaca panas dan kondisi lahan yang semakin kering membuat kebakaran lebih mudah terjadi dan meluas. Asap dari sejumlah titik kebakaran juga mulai dirasakan masyarakat.
Bagi warga, hujan bukan sekadar untuk menurunkan suhu udara. Hujan diharapkan dapat membasahi lahan, membantu memadamkan api, sekaligus mengurangi asap yang terbawa angin ke permukiman.
Rizky, warga Sampit, mengatakan cuaca beberapa hari terakhir terasa semakin panas. Kondisi itu membuat warga khawatir jika kebakaran terus terjadi sementara hujan belum turun.
“Sekarang memang kami sangat berharap hujan turun. Cuaca panas, lahan kering, ditambah ada kebakaran di beberapa tempat. Mudah-mudahan dengan hujan, kondisi bisa segera membaik,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi lahan yang kering membuat api harus diwaspadai. Kebakaran yang awalnya kecil dapat cepat meluas ketika angin bertiup dan vegetasi di sekitar lokasi dalam kondisi kering.
Rizky juga mengingatkan masyarakat agar ikut mencegah munculnya titik api baru. Salah satunya dengan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.
“Yang penting masyarakat juga harus sama-sama menjaga. Jangan sampai ada yang sengaja membakar lahan. Saat kondisi kering seperti sekarang, api cepat sekali menyebar,” katanya.
Harapan terhadap hujan juga terlihat dalam pelaksanaan salat istisqa di halaman Kantor Bupati Kotim, Kamis (27/8).
Salat istisqa digelar Pemerintah Kabupaten Kotim bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan berbagai elemen masyarakat sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan.
Momentum tersebut menjadi gambaran kondisi yang tengah dihadapi masyarakat. Setelah berminggu-minggu menghadapi cuaca panas dan lingkungan yang kering, warga berharap hujan segera turun sebelum karhutla semakin meluas.
“Semoga hujan benar-benar segera turun. Bukan hanya untuk memadamkan api, tetapi supaya udara kembali bersih dan masyarakat bisa beraktivitas dengan nyaman,” ujar Rizky.
Kekhawatiran warga semakin besar karena karhutla tidak hanya terjadi jauh dari pusat kota. Sejumlah titik kebakaran berada di sekitar kawasan permukiman dan jalur aktivitas masyarakat.
Kondisi lahan yang kering membuat petugas pemadam dan tim penanganan karhutla harus bekerja ekstra untuk mencegah api meluas.
Persoalan lain muncul setelah api berhasil dipadamkan. Tanpa hujan yang cukup, lahan kembali cepat kering sehingga potensi munculnya titik api baru maupun api yang kembali menyala tetap ada.
“Kalau lahan sudah kering seperti sekarang, api kecil saja bisa menjadi masalah besar. Jadi memang harus sama-sama menjaga,” katanya.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan kemarau yang panjang dan cuaca panas membuat penanganan karhutla semakin berat. Titik api bahkan muncul di sekitar wilayah lingkar kota Sampit dan sejumlah daerah lainnya.
“Kemarau yang cukup panjang dan sangat panas, sehingga kita tahu sendiri bahwa saat ini banyak sekali titik-titik api yang terjadi di lingkaran seputar kota ini saja,” kata Halikinnor.
Di tengah kondisi tersebut, hujan menjadi harapan untuk membantu mengatasi karhutla dan asap. Namun, sembari menunggu hujan, masyarakat tetap memiliki peran penting dalam mencegah munculnya api baru.
Sebab, penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada hujan. Pencegahan dari masyarakat juga menjadi bagian penting agar kebakaran tidak terus meluas. (KLIK-RED)