Home Peristiwa Asap Tebal Selimuti Jalan Tjilik Riwut Sampit, Jarak Pandang Pengendara Terbatas

Asap Tebal Selimuti Jalan Tjilik Riwut Sampit, Jarak Pandang Pengendara Terbatas

  Sugianto   | Senin , 31 Agustus 2026
dee40251f8a6e03981b155b6f7501104.jpg
Suasana pagi fi Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, yang diselimuti kabut asap tebal jarak pandang hanya beberapa meter. Konfiai ini menunjukkan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di daerah ini makin parah, Senin (31/8). (Sugianto /Klikkalteng.id)

KLIK.SAMPIT – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Senin pagi (31/8).

Sekitar pukul 06.00 WIB, asap terlihat cukup pekat di sejumlah ruas jalan. Kondisi itu membuat jarak pandang pengendara menjadi terbatas.

Pantauan di salah satu ruas Jalan Tjilik Riwut, kendaraan yang melintas dari kejauhan terlihat samar. Pengendara pun harus mengurangi kecepatan dan meningkatkan kewaspadaan.

Kondisi serupa juga terlihat di kawasan Mentawa Baru Ketapang. Warga melaporkan kabut asap sudah terasa sejak subuh.

“Di MB Ketapang, kawasan Bundaran KB masih kabut dari jam subuh sampai jam 06.52 WIB,” ujar Wawan.

Kabut asap muncul saat aktivitas masyarakat mulai meningkat. Sejumlah warga berangkat bekerja, sementara orang tua mengantar anak menuju sekolah.

Kondisi tersebut membuat perjalanan menjadi kurang nyaman. Pengendara harus lebih berhati-hati karena pandangan ke arah depan tidak sejernih biasanya.

Salah seorang warga yang mengantar anak sekolah, Susilawati, mengatakan asap pagi ini terasa lebih pekat. Ia terpaksa memperlambat laju kendaraan ketika melintasi ruas jalan yang dipenuhi asap.

“Pagi ini asapnya makin parah, sangat pekat. Saat mengantar anak sekolah, pandangan ke depan terbatas. Jadi harus lebih pelan dan hati-hati,” kata Susilawati.

Menurutnya, kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran karena anak-anak harus beraktivitas di luar rumah sejak pagi.

“Anak-anak berangkat sekolah pagi, sementara asap seperti ini. Tentu kami khawatir, apalagi kalau setiap hari kondisinya terus seperti ini,” ujarnya.

Dampak kabut asap juga dirasakan warga yang bekerja di luar ruangan. Rahman, pedagang sayur keliling, mengaku aktivitasnya terganggu karena jarak pandang yang terbatas.

Ia harus memperlambat kendaraan ketika membawa dagangan dari satu kawasan permukiman ke kawasan lainnya.

“Kalau asap tebal seperti ini, jualan keliling jadi kurang nyaman. Pandangan ke depan terbatas, jadi harus pelan-pelan saat membawa sayuran,” ujar Rahman.

Meski demikian, Rahman tetap menjalankan aktivitasnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia berharap kondisi udara segera membaik.

“Harapannya asap cepat hilang dan kondisi kembali normal. Kami yang berjualan di jalan tentu paling terasa kalau jarak pandang pendek seperti ini,” katanya.

Kabut asap tidak hanya mengganggu jarak pandang. Udara yang dipenuhi asap juga membuat aktivitas masyarakat di luar ruangan menjadi kurang nyaman.
Kondisi tersebut kembali menjadi perhatian di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Kotim.

Susilawati berharap kondisi kabut asap menjadi perhatian, terutama karena aktivitas sekolah berlangsung pada pagi hari.

“Harapannya pemerintah bisa segera mengkaji ulang soal aturan anak sekolah ini,” katanya.

Masyarakat berharap penanganan karhutla terus diperkuat agar kabut asap tidak semakin meluas. Warga juga berharap kualitas udara segera membaik sehingga aktivitas sehari-hari dapat berjalan dengan aman dan nyaman (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami