KLIK.SAMPIT – Harapan akan turunnya hujan kembali muncul di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Setelah cukup lama didominasi cuaca kering, sejumlah wilayah Kotim berpeluang mendapat guyuran hujan lokal hingga ringan pada 7–8 September 2026.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mitra Hutauruk, mengatakan peluang hujan tersebut menjadi kabar positif di tengah kondisi cuaca yang masih cenderung kering.
“Untuk tanggal 7 dan 8 ada peluang hujan lokal dan hujan ringan untuk Kotim,” kata Mitra, Rabu (2/9).
Mitra menjelaskan, peluang hujan tersebut berkaitan dengan pola angin konfluensi yang diperkirakan terbentuk pada periode tersebut.
Pola ini dapat menyebabkan berkumpulnya massa udara di suatu wilayah. Kondisi tersebut kemudian berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan.
Namun, masyarakat diminta tidak langsung berharap hujan akan turun merata di seluruh Kotim.
Hujan yang berpeluang terjadi diprakirakan bersifat lokal dan sporadis. Durasi hujan juga cenderung singkat sehingga belum cukup untuk mengakhiri kondisi kering secara menyeluruh.
“Walaupun peluangnya kecil, kita doakan bersama-sama,” ujarnya.
Peluang hujan ini menjadi angin segar bagi masyarakat Kotim. Terlebih, kondisi kering dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Jika hujan turun, meski hanya di sejumlah wilayah, guyuran air diharapkan dapat membantu membasahi lahan dan menurunkan kondisi kering untuk sementara.
Meski demikian, Mitra mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi Karhutla.
“Walaupun ada peluang hujan, masyarakat tetap harus mewaspadai kebakaran lahan dan hutan,” tegasnya.
Hujan lokal belum berarti seluruh wilayah Kotim terbebas dari ancaman kebakaran. Lahan yang tidak mendapat hujan masih berpotensi kering dan mudah terbakar.
Karena itu, masyarakat diminta tetap berhati-hati saat beraktivitas di sekitar lahan. Warga juga diimbau tidak melakukan pembakaran yang dapat memicu meluasnya Karhutla.
Kini, masyarakat Kotim masih menunggu kepastian dari langit. Jika peluang hujan pada 7–8 September benar-benar terwujud, guyuran air tersebut setidaknya menjadi jeda dari kondisi kering yang masih melanda sejumlah wilayah. (KLIK-RED)