KLIK.SAMPIT – Warga Perumahan Borneo Indah Regency, Jalan Mohammad Hatta atau Lingkar Kota Selatan, Sampit, dibuat waswas oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus mendekati permukiman.
Kobaran api bahkan membuat sebagian warga tidak bisa tidur nyenyak. Mereka khawatir api yang terus membesar merambat hingga ke kawasan perumahan.
Salah seorang warga, Sofia Ridho, mengatakan warga akhirnya memilih turun tangan memadamkan api secara mandiri. Mereka menggunakan air seadanya untuk menahan laju kobaran.
“Kami sampai tidak bisa tidur, waswas. Akhirnya kami berupaya memadamkan api sendiri dengan air, meski manual. Namun api tetap membesar dan makin mendekat,” ujarnya, Selasa (1/9).
Karena kobaran semakin sulit dikendalikan, Ketua RT setempat kemudian berinisiatif meminjam mesin alkon milik kelurahan. Alat tersebut digunakan warga untuk menyemprotkan air ke titik api.
Menurut Sofia, warga sebenarnya sudah menghubungi petugas pemadam. Namun banyaknya titik api membuat bantuan tidak bisa datang dengan cepat.
“Jadi usaha sendiri dulu,” katanya.
Aksi warga ini dilakukan untuk mencegah api mencapai rumah-rumah mereka. Warga sekitar bergantian membantu proses pemadaman, meski harus menghadapi kepulan asap dan kobaran api yang terus bergerak.
Ketua RT setempat, Dony Mahendara, mengatakan kebakaran di sekitar permukiman tersebut telah terjadi selama beberapa pekan terakhir.
Menurutnya, titik api sebelumnya berada di wilayah barat. Warga menduga api berasal dari kawasan Pendawa di Jalan Jenderal Sudirman dan kemudian bergerak mengikuti arah angin.
“Tiga hari lalu sempat kami padamkan. Namun tiba-tiba selanjutnya dari arah selatan api juga datang,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat warga harus kembali berjibaku. Bahkan upaya membuat kanal atau parit untuk menghambat rambatan api belum sepenuhnya mampu menghentikan kobaran.
“Kami juga telah berupaya membuat kanal atau parit, namun tidak mampu menghalau api,” jelas Dony.
Ancaman karhutla juga mulai dirasakan dari sisi kesehatan. Dony menyebut sejumlah warga mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Keluhannya mulai dari batuk, pilek hingga demam. Anak-anak juga ikut terdampak.
“Di antaranya juga ada anak-anak, tak terkecuali anak saya,” ujarnya.
Saat ini warga bersama relawan dan Masyarakat Peduli Api (MPA) Mentawa Baru Hulu masih berupaya mengendalikan api di sisi selatan perumahan.
Karena keterbatasan peralatan, warga bahkan meminjam kendaraan roda tiga yang dilengkapi tangki air untuk membantu proses pemadaman.
Dony berharap seluruh masyarakat ikut menjaga lingkungan dan mencegah api semakin meluas.
“Mari kita bersama menjaga api agar tidak merambat ke wilayah kita. Sehingga tempat kita, kabut asap tidak pekat lagi,” pungkasnya. (KLIK-RED)