Home Peristiwa Diare di Kotim Tembus 3.546 Kasus, Kemarau Picu Kekhawatiran soal Air Bersih

Diare di Kotim Tembus 3.546 Kasus, Kemarau Picu Kekhawatiran soal Air Bersih

  Sugianto   | Rabu , 09 September 2026
a19e99c1c12d4314ae0775e16ed74271.jpg
Suasana di salah satu Puskesmas di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. (Sugianto /Klikkalteng.id)

KLIK.SAMPIT – Kasus diare di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencapai 3.546 kasus sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim mencatat kasus tersebut tersebar di sejumlah wilayah. Kondisi ini menjadi perhatian di tengah musim kemarau yang mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih masyarakat.

Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi mengatakan, kondisi air bersih menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pencegahan diare.

Berkurangnya sumber air saat kemarau dapat membuat sebagian masyarakat menggunakan sumber air alternatif. Kondisi tersebut perlu diikuti dengan pengolahan air yang tepat sebelum digunakan untuk minum maupun memasak.

“Diare salah satunya berkaitan dengan kondisi air bersih. Saat kemarau dan sumber air berkurang, masyarakat di beberapa daerah bisa mengalami kesulitan memperoleh air yang layak, sehingga risiko penyakit juga perlu diantisipasi,” ujarnya, Rabu (9/9).

Berdasarkan catatan Dinkes Kotim, kasus diare sudah cukup tinggi sejak awal tahun. Pada Januari tercatat 440 kasus dan meningkat menjadi 507 kasus pada Februari.

Kasus kemudian terus tercatat pada bulan-bulan berikutnya hingga akumulasi Januari-Agustus mencapai 3.546 kasus.

Meski jumlahnya mencapai ribuan, Dinkes menyebut kondisi pasien yang ditangani sejauh ini masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Tidak terdapat laporan kematian akibat diare.

“Sejauh ini kasus yang ditemukan masih dapat ditangani oleh fasilitas kesehatan. Tidak ada laporan kasus diare yang sampai menyebabkan kematian,” kata Umar.

Umar mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kualitas air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Air isi ulang sekalipun, menurutnya, tetap sebaiknya dimasak sebelum dikonsumsi.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan kontaminasi mikroorganisme yang tidak terlihat secara kasatmata.

“Air isi ulang pun sebaiknya tetap dimasak sebelum dikonsumsi. Ini untuk mengantisipasi apabila masih terdapat kontaminasi bakteri yang berpotensi memicu diare,” jelasnya.

Salah satu bakteri yang perlu diwaspadai adalah Escherichia coli (E. coli). Keberadaan bakteri tersebut dapat menjadi indikator pencemaran dan berpotensi menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan.

Dinkes juga terus mendorong upaya pencegahan melalui edukasi di puskesmas. Masyarakat diminta menjaga kebersihan air, makanan, tangan, dan lingkungan sekitar.

Imbauan tersebut menjadi semakin penting saat kemarau. Sebab, penurunan debit sumur maupun sumber air lainnya dapat membuat masyarakat beralih menggunakan sumber air yang kualitasnya belum tentu terjamin.

Di sisi lain, musim kemarau tahun ini juga berlangsung bersamaan dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kotim. Asap akibat karhutla turut menjadi perhatian sektor kesehatan.

Dinkes Kotim telah meminta fasilitas kesehatan tetap memberikan pelayanan selama 24 jam. Kesiapsiagaan tersebut dilakukan agar masyarakat tetap memperoleh pertolongan ketika mengalami gangguan kesehatan.

Obat-obatan dan masker juga disiapkan. Sejumlah puskesmas dan Public Safety Center (PSC) turut menyediakan rumah oksigen.

“Kami sudah menginstruksikan fasilitas kesehatan untuk tetap memberikan pelayanan selama 24 jam. Obat-obatan dan masker juga disiapkan, termasuk rumah oksigen di puskesmas dan PSC,” ungkap Umar.

Masyarakat yang mengalami diare diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila kondisi tidak membaik, terutama ketika muncul tanda-tanda kekurangan cairan.

Dinkes menekankan pencegahan tetap menjadi langkah utama. Masyarakat diminta memastikan air yang dikonsumsi telah diolah dengan baik, mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan makanan, dan tidak membiarkan lingkungan menjadi sumber pencemaran.

Dengan 3.546 kasus tercatat hingga Agustus, kewaspadaan terhadap diare perlu ditingkatkan. Terlebih, kondisi kemarau masih berlangsung dan sejumlah wilayah Kotim menghadapi keterbatasan sumber air bersih. (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami