Home Peristiwa Matahari Tak Terlihat, Kabut Asap Kepung Sampit hingga Ancam Kesehatan

Matahari Tak Terlihat, Kabut Asap Kepung Sampit hingga Ancam Kesehatan

  Sugianto   | Minggu , 13 September 2026
cd3b218e2ddfc8850a39ec07f4216731.jpg
Jarak pandang di Sungai Mentaya Sampit, tertutup kabut asap, Sabtu siang (12/9). (Suginato/Klikkalteng.id)

KLIK.SAMPIT – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (13/9) siang. Kondisi ini membuat langit tampak kelabu, sementara matahari tidak terlihat jelas dan pemandangan di sekitar Sungai Mentaya menjadi samar.

Suasana tersebut dirasakan warga di sejumlah kawasan Kota Sampit. Meski waktu sudah memasuki siang, sinar matahari masih tertutup kabut.

Warga Seranau, Samsul, mengatakan kondisi kabut asap sudah dirasakan dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, pekatnya kabut membuat suasana siang terlihat seperti mendung.

“Kondisi kabut asap ini sudah beberapa hari ini. Meskipun sudah sekitar pukul 1 siang, sinar matahari tidak terlihat. Kondisinya mendung seperti ini karena asap,” ujar Samsul, Minggu (13/9).

Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim. Asap dari kawasan terbakar disebut berpotensi terbawa angin menuju wilayah perkotaan.

“Kalau informasinya kebakaran masih masif, seperti di Pulau Hanaut, Seranau, Baamang dan Ketapang. Kemungkinan angin membawa asap ini ke Kota Sampit,” katanya.

Kondisi udara di Sampit menjadi semakin mengkhawatirkan karena kualitas udara Kotim masih berada pada level berbahaya.

Data pemantauan menunjukkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kotim mencapai 416. Angka tersebut masuk kategori berbahaya dan menunjukkan tingginya tingkat pencemaran udara.

Kabut asap tidak hanya mengurangi jarak pandang. Paparan udara tercemar juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan masyarakat yang memiliki masalah pernapasan.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk. Penggunaan masker dan upaya mengurangi paparan asap juga penting dilakukan.

Pemandangan Sungai Mentaya yang terlihat samar dari kejauhan menjadi salah satu gambaran kondisi udara di Sampit. Di tengah karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim, dampak asap kini kembali dirasakan langsung masyarakat di kawasan perkotaan.

Kabut yang menutup langit Sampit menjadi tanda bahwa persoalan karhutla tidak hanya terjadi di lokasi kebakaran. Dampaknya telah masuk ke ruang hidup warga melalui kualitas udara yang memburuk. (KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami