KLIK.SAMPIT – Asap pekat dan abu sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai semakin terasa di tengah aktivitas warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.
Selain mengganggu jarak pandang, partikel sisa pembakaran juga beterbangan terbawa angin hingga masuk ke lingkungan permukiman. Warga mengeluhkan mata perih hingga napas terasa sesak ketika berada di luar rumah.
Kondisi tersebut dirasakan warga Sampit pada Rabu (23/9). Abu terlihat menempel di jalan, kendaraan hingga sejumlah bagian rumah.
Irma, warga Sampit, mengatakan kondisi udara terasa lebih mengganggu ketika asap mulai menebal pada siang hingga sore hari.
“Hari ini asapnya kalau pagi tipis, namun dari siang hingga sore makin pekat. Mata terasa perih. Napas juga terasa sesak, apalagi kalau sedang berada di luar rumah,” ujar Irma, Rabu (23/9).
Menurutnya, abu juga mulai terlihat beterbangan dan masuk ke sekitar rumah. Kendaraan yang diparkir di luar pun cepat kotor.
“Abunya kelihatan beterbangan dan ada yang masuk sampai ke rumah. Kendaraan yang diparkir di luar juga cepat kotor karena terkena abu,” katanya.
Partikel yang terbawa angin tersebut tidak hanya berupa butiran kecil berwarna putih atau abu-abu. Warga juga menemukan serpihan daun dan bagian tanaman yang terbakar hingga berwarna hitam.
Beberapa serpihan bahkan berukuran cukup besar dan dapat berpindah ketika angin bertiup dari kawasan yang terbakar menuju permukiman.
Kondisi itu membuat dampak karhutla semakin terasa langsung oleh masyarakat. Kebakaran yang sebelumnya terlihat dari kejauhan kini meninggalkan asap dan sisa pembakaran di sekitar ruang hidup warga.
Berdasarkan data penanganan Satgas Karhutla Kotim hingga Selasa (22/9), tercatat 1.081 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai 1.880,57 hektare.
Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi asap memburuk. Penggunaan masker juga dianjurkan untuk mengurangi paparan partikel, terutama bagi anak-anak, lansia dan kelompok yang rentan terhadap gangguan pernapasan.
Di tengah karhutla yang masih terjadi, warga Sampit kini harus menjalankan aktivitas sehari-hari dengan kondisi udara yang dipenuhi asap dan abu. (KLIK-RED)