KLIK.SAMPIT – Karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tak hanya membakar lahan. Kondisi di lapangan juga mulai menguras tenaga para relawan yang berjibaku memadamkan api di tengah panas dan kepungan asap.
Seorang relawan di kawasan Tanah Mas dilaporkan mengalami sesak napas hingga pingsan saat berada di lokasi kebakaran. Relawan tersebut kemudian mendapat bantuan oksigen dan dibawa untuk menjalani pemeriksaan.
Kabar duka juga datang dari Desa Hanjalipan. Seorang relawan dilaporkan meninggal dunia setelah sebelumnya terlibat dalam penanganan karhutla.
Namun, penyebab kematian relawan tersebut belum dapat dipastikan. Satgas masih membutuhkan kronologi lengkap untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya.
Koordinator Harian Satgas Karhutla Kotim Rihel mengatakan, relawan yang meninggal memang sempat terlibat dalam pemadaman. Namun, pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab kematiannya.
“Yang jelas dia memang melakukan pemadaman. Tapi untuk penyebab pastinya kita masih membutuhkan kronologi lengkap. Tidak bisa langsung disimpulkan,” kata Rihel, Rabu (23/9).
Di tengah kondisi tersebut, penanganan karhutla di Kotim masih terus berlangsung. Api muncul di banyak titik dan membuat petugas harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Pada Selasa (22/9), sedikitnya 20 lokasi kembali ditangani Satgas Karhutla Kotim.
Lokasi tersebut antara lain Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 18, Kilometer 9, Perumahan Robi, kawasan Kuburan Kilometer 6,5, sekitar SMPN 8 Sampit, arah Betang, Sawit Raya, Lingkar Utara, Sarawak Teraya hingga kawasan Bandara dan Cilik Riwut.
Secara akumulatif, Satgas telah menangani 1.081 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar sekitar 1.880,57 hektare.
“Jumlah kejadian yang kita tangani sudah 1.081, dengan luasan sekitar 1.880,57 hektare,” ujarnya.
Water Bombing Terkendala Asap
Kondisi asap yang semakin pekat juga menghambat upaya pemadaman dari udara.
Pada Selasa, operasi water bombing di Bambang Hulu hanya dapat dilakukan satu sortie. Selama hampir tiga jam, helikopter menjatuhkan air sebanyak 26 kali dan menangani sekitar lima hektare area.
Operasi kemudian dihentikan karena jarak pandang memburuk. Visibility di lapangan sempat berada pada kisaran 400 meter hingga satu kilometer.
“Kalau visibility terlalu pendek, risikonya sangat tinggi. Idealnya minimal sekitar 4,5 kilometer untuk penerbangan,” jelas Rihel.
Sehari sebelumnya, operasi water bombing dilakukan di Rawasari sebanyak 16 kali dengan luasan sekitar tiga hektare.
Sementara di Bambang Hulu, penjatuhan air dilakukan sebanyak sembilan kali dengan luasan sekitar dua hektare.
Air Jadi Kendala Pemadaman
Di darat, ketersediaan air masih menjadi salah satu kendala utama.
Petugas terkadang sudah berada dekat dengan titik api, tetapi persediaan air habis sebelum suplai berikutnya tiba. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman terhambat.
“Yang paling berat ketika sudah mendekati api, tiba-tiba air habis sementara suplai belum datang. Kalau sumber air tersedia di sekitar lokasi, saya yakin penanganan bisa lebih cepat,” kata Rihel.
Dengan kondisi karhutla yang belum mereda, Satgas mengingatkan relawan agar tidak memaksakan diri ketika kondisi fisik sudah menurun.
Relawan juga diminta memperhatikan arah angin dan tidak menerobos kobaran api tanpa perhitungan. Masker, kacamata pelindung dan perlengkapan keselamatan perlu digunakan selama berada di sekitar lokasi kebakaran.
Masyarakat juga diminta tidak menunggu api membesar. Jika menemukan titik api yang masih kecil dan memungkinkan ditangani, pemadaman awal dapat dilakukan dengan tetap mengutamakan keselamatan.
Area sekitar api dapat dibersihkan, dibasahi atau ditutup menggunakan pasir untuk menghambat penjalaran api. Namun, jika kobaran sudah membesar, masyarakat diminta segera menghubungi petugas.
“Kalau apinya masih kecil dan bisa ditangani, masyarakat bisa membantu memadamkan. Kalau sudah besar, segera minta bantuan kita,” pungkasnya. (KLIK-RED)