Home Berita Metropolis Ironis! Relawan Karhutla Kotim Masih Ada yang Padamkan Api Pakai Sandal

Ironis! Relawan Karhutla Kotim Masih Ada yang Padamkan Api Pakai Sandal

  Sugianto   | Kamis , 24 September 2026
e00a558fb302df66b01300cc812a9fd9.jpg
Komunitas Warga Sampit Peduli dan Pengurus NU Kotim menyalurkan bantuan APD, obat-obatan, vitamin, roti dan air mineral kepada relawan karhutla dari Puter Indonesia, Kamis (24/9).(Rahmat Hidayat / Klikkalteng.id)

KLIK.SAMPIT – Perjuangan relawan menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih menghadapi keterbatasan perlengkapan keselamatan.

Aktivis Komunitas Warga Sampit Peduli, Rahmat Hidayat mengatakan, masih ada relawan di garis depan yang harus memadamkan api dengan perlengkapan seadanya.
Bahkan, sebagian relawan disebut masih menggunakan sandal saat berada di medan kebakaran.

"Kami sedih masih ada relawan yang memadamkan api pakai sandal atau tidak beralas kaki sama sekali. Mereka tidak punya sepatu bot atau sepatu yang layak untuk medan memadamkan api," ujar Rahmat yang akrab disapa Dayat, Kamis (24/9).

Kondisi tersebut mendorong Komunitas Warga Sampit Peduli bersama Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Kotim untuk kembali menyalurkan bantuan bagi para relawan.

Bantuan tersebut berasal dari Puter Indonesia dan telah disalurkan langsung  kepada relawan yang berada di lapangan oleh Andaman, Penanggung jawab program Yayasan Puter Indonesia Bandung bersama Tim Relawan Komunitas Warga Sampit Peduli dan Relawan NU Kotim. 

"Alhamdulillah, Komunitas Warga Sampit Peduli dan Pengurus NU Kotim ikut menyalurkan bantuan APD, obat-obatan, vitamin, roti dan air mineral dari Puter Indonesia. Sudah disalurkan kepada para relawan karhutla," katanya.

Menurut Dayat, kebutuhan relawan saat ini tidak hanya makanan dan minuman. Peralatan keselamatan dan perlengkapan pendukung untuk menghadapi medan kebakaran juga masih sangat dibutuhkan.

Karhutla di Kotim hingga kini masih terjadi. Dampaknya juga semakin dirasakan masyarakat, terutama akibat asap dan memburuknya kualitas udara.

Berdasarkan data indeks standar pencemar udara (ISPU), nilai ISPU Kotim tercatat mencapai 1.169 dan berada pada kategori berbahaya.

Di tengah kondisi tersebut, Dayat mengajak komunitas dan berbagai pihak untuk terus membuka ruang kolaborasi dalam membantu penanganan karhutla.

Sebab, persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini tidak hanya berkaitan dengan kebakaran dan asap. Kekeringan juga semakin menjadi perhatian karena sumber air di daratan semakin terbatas.

Kondisi tersebut diperparah dengan intrusi air laut yang mulai masuk ke sejumlah wilayah. Bahkan, persoalan air asin telah dirasakan hingga wilayah perkotaan, termasuk Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

"Jadi saat ini bukan hanya penanganan kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat juga terdampak kekeringan. Sumber air semakin minim, ditambah intrusi air laut yang sudah merambah wilayah kota," jelasnya.

Dayat berharap semakin banyak pihak yang ikut membantu, terutama dalam menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan relawan saat berada di lokasi kebakaran.

"Harapan kami ada lebih banyak kolaborasi. Relawan di lapangan masih membutuhkan dukungan, terutama perlengkapan keselamatan agar mereka bisa bekerja lebih aman," pungkasnya. (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami