KLIK.SAMPIT – Sebanyak 274 siswa SMAN 1 Cempaga, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), harus berbagi ruang belajar setelah sejumlah fasilitas sekolah terbakar pada Minggu (27/9) dini hari.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 02.30 WIB. Sejumlah bagian bangunan sekolah terdampak dan membuat penggunaan ruang belajar harus ditata kembali.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, kegiatan belajar mengajar tetap diupayakan berjalan. Untuk sementara, siswa akan menggunakan ruangan sekolah yang masih utuh dan dinilai aman.
“Untuk sementara kita gunakan ruangan yang masih utuh dan bisa dipakai untuk belajar. Yang penting kegiatan belajar mengajar anak-anak tetap berjalan,” kata Halikinnor.
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat enam bagian sekolah yang terdampak kebakaran. Bagian tersebut meliputi ruang kantor, ruang guru, aula serta tiga ruang kelas.
Dari tiga ruang kelas yang terdampak, dua di antaranya terbakar. Sementara satu bagian dibobok untuk mencegah api merambat ke bangunan lainnya.
Kondisi tersebut membuat pihak sekolah harus mengatur ulang penggunaan ruangan. Ruang yang masih utuh akan dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran dengan menyesuaikan kapasitas dan jumlah siswa.
Sementara bagian bangunan yang terdampak kebakaran tidak digunakan terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan keamanan. Langkah ini untuk memastikan keselamatan siswa, guru dan tenaga kependidikan.
Penanganan kebakaran berlangsung hingga pagi hari. Petugas kemudian melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara atau titik panas yang dapat memicu kebakaran kembali.
Police line juga dipasang di sekitar lokasi bangunan yang terdampak kebakaran.
Hingga kini, kepolisian masih melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kronologi dan penyebab pasti kebakaran. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan.
Kepolisian juga mengingatkan pihak sekolah dan masyarakat agar memperhatikan kondisi instalasi listrik serta peralatan elektronik. Perangkat yang tidak digunakan sebaiknya dimatikan atau dicabut sebelum ruangan ditinggalkan.
Pemerintah daerah selanjutnya akan mendata kerusakan bangunan dan fasilitas sekolah. Data tersebut akan menjadi bahan untuk menentukan langkah penanganan serta pemulihan fasilitas pendidikan yang terdampak. (KLIK-RED)