KLIK.SAMPIT – Kebakaran yang menghanguskan sejumlah bangunan SMAN 1 Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mulai menemukan titik terang. Polisi menyebut sumber api diduga berasal dari korsleting listrik pada sebuah kulkas yang berada di ruang Wakil Kepala Sekolah.
Kulkas tersebut diduga mengalami korsleting hingga menimbulkan ledakan dan memicu kobaran api yang kemudian membakar sejumlah ruangan di lingkungan sekolah.
Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra melalui Kasat Reskrim AKP Sugiharso mengungkapkan, dugaan sementara penyebab kebakaran berkaitan dengan instalasi listrik pada kulkas yang terus terhubung dengan sumber listrik.
“Kulkas yang berada di ruang wakil kepala sekolah itu diduga mengalami korsleting. Kondisinya sudah cukup lama dan terus terhubung dengan listrik, sehingga diduga terjadi ledakan yang kemudian memicu kebakaran,” ujar Sugiharso saat konferensi pers di Mapolres Kotim, Rabu (30/9).
Menurutnya, kondisi kulkas tersebut juga menjadi bagian yang diperiksa dalam penyelidikan. Peralatan itu disebut sudah digunakan selama sekitar empat tahun dan kondisinya dinilai sudah cukup tua.
Kulkas tersebut diduga tidak pernah dicabut dari sumber listrik sehingga terus dalam kondisi terhubung. Polisi masih mendalami apakah terdapat persoalan pada perangkat maupun kabel yang digunakan hingga akhirnya memicu korsleting.
Meski dugaan sumber api telah mengarah ke kulkas tersebut, polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan rangkaian kejadian sekaligus menentukan ada atau tidaknya pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban.
“Untuk sementara masih dalam penyelidikan untuk pertanggungjawabannya. Dari unsur yang ada nanti masih kita lakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan,” jelasnya.
Kebakaran tersebut mengakibatkan kerusakan cukup parah pada sejumlah fasilitas sekolah. Tiga ruang kelas, satu ruang Wakil Kepala Sekolah atau ruang guru terdampak kebakaran.
Kerusakan bangunan dan fasilitas sekolah itu ditaksir menimbulkan kerugian sekitar Rp1,5 miliar. Nilai tersebut merupakan kerugian terhadap aset pemerintah yang berada di lingkungan SMAN 1 Cempaga.
Dampak kebakaran tidak hanya dirasakan dari sisi kerusakan bangunan. Aktivitas belajar mengajar para siswa juga ikut terganggu karena sejumlah ruangan yang biasa digunakan untuk kegiatan pendidikan tidak lagi dapat dimanfaatkan.
Untuk sementara, kegiatan pembelajaran dilakukan dari rumah. Pihak terkait masih mencari alternatif tempat agar proses belajar mengajar tetap dapat berjalan sembari menunggu penanganan terhadap bangunan sekolah yang terbakar.
“Kegiatan belajar mengajar sementara masih dilakukan di rumah karena ruangannya tidak ada. Kami masih mencari solusi dan berkoordinasi dengan Dinas Kabupaten Kotawaringin Timur untuk kegiatan belajar mengajar,” pungkasnya.
Sebelumnya, kebakaran terjadi di SMAN 1 Cempaga, Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, pada Minggu dini hari (27/9) lalu. Api melalap sejumlah bagian bangunan sekolah hingga membuat aktivitas pendidikan di sekolah tersebut harus dihentikan sementara.
Kini, selain penanganan dampak kebakaran, kepolisian masih mendalami penyebab pasti kejadian dan pihak-pihak yang berkaitan dengan penggunaan maupun kondisi peralatan listrik yang diduga menjadi sumber awal munculnya api. (KLIK.RED)