Home Berita Metropolis Bukan Cuma Cabai, Ikan Nila dan Bensin Ikut Dorong Inflasi Sampit hingga 4,21 Persen

Bukan Cuma Cabai, Ikan Nila dan Bensin Ikut Dorong Inflasi Sampit hingga 4,21 Persen

  Redaksi   | Kamis , 01 Oktober 2026
8c55b9e8327b3385d8903ac8fe0f2e67.jpg
Pedagang di salah satu pasar tradisonal di Sampit memperlihatkan cabai dagangannya. (Foto :DOkumentasi Sugianto/Klikkalteng.id)

KLIK.SAMPIT – Inflasi di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mencapai 4,21 persen secara tahunan pada September 2026. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan, mulai dari ikan nila, cabai rawit, beras hingga bensin, ikut memberi tekanan terhadap inflasi.

Angka tersebut berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Nomor 10/10/6202/Th. XX yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kotim pada 1 Oktober 2026.

BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Sampit naik dari 108,00 pada September 2025 menjadi 112,55 pada September 2026. Secara bulanan, inflasi September tercatat 0,62 persen, sedangkan inflasi sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 3,57 persen.

 “Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. Kelompok ini mengalami inflasi tahunan 6,23 persen dengan andil sebesar 2,28 persen,” ungkap Kepala BPS Kotim Eddy SUrahman, Kamis (1/10).

Sejumlah komoditas pangan turut memberikan pengaruh. Ikan nila tercatat memberikan andil inflasi 0,43 persen, disusul minyak goreng 0,22 persen, cabai rawit 0,16 persen, beras 0,16 persen, serta bahan bakar rumah tangga 0,16 persen.

Tekanan juga datang dari sektor transportasi. Kelompok transportasi mengalami inflasi tahunan sebesar 6,03 persen dengan andil 0,54 persen. Komoditas bensin sendiri memberikan andil inflasi sebesar 0,40 persen.

“Sementara itu, emas perhiasan menjadi salah satu komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan Sampit, yakni 0,46 persen,” tambahnya.

Jika dilihat dari perkembangan bulanan, cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang paling mendorong inflasi September dengan andil 0,10 persen. Ikan nila menyusul dengan andil 0,09 persen, kemudian ketimun 0,08 persen dan sigaret kretek mesin (SKM) 0,05 persen.

Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami kenaikan harga. Daging ayam ras memberikan andil deflasi 0,15 persen, telur ayam ras 0,10 persen, angkutan udara 0,08 persen, serta tarif Sekolah Menengah Pertama (SMP) 0,10 persen.

Secara tahunan, inflasi Sampit pada September 2026 juga menunjukkan peningkatan dibanding dua tahun sebelumnya. Pada September 2024, inflasi tercatat 1,46 persen dan meningkat menjadi 2,76 persen pada September 2025.

“Kenaikan tersebut berlanjut pada September 2026 dengan inflasi mencapai 4,21 persen,” tutupnya. (KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami