KLIK.SAMPIT – Kalimantan Tengah kini berada di urutan kesembilan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional. Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menyebut posisi tersebut patut disyukuri, tetapi bukan alasan untuk mengendurkan upaya pencegahan.
Hal itu disampaikan Agustiar saat melakukan kunjungan kerja ke sejumlah kabupaten di wilayah barat Kalteng, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (4/10).
Agustiar mengatakan, posisi Kalteng saat ini sudah lebih baik dibanding kondisi yang biasa terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, Kalteng kerap berada di tiga besar daerah dengan kasus karhutla secara nasional.
“Meski wilayah kita didominasi gambut, saat ini kita karhutla masih di urutan sembilan. Dan biasanya nomor satu, nomor dua, nomor tiga,” kata Agustiar.
Ia menegaskan, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul. Pencegahan perlu dilakukan sejak awal dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko penggunaan api.
“Ini penanganan karhutla yang terus dilakukan. Kalau hasil implikasinya, kesadaran kita bersama. Kalau ada kesadaran itu titik kuncinya. Baru selanjutnya air,” ujarnya.
Menurut Agustiar, kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dalam menekan kejadian karhutla. Terlebih, sebagian kebakaran dapat berkaitan dengan aktivitas manusia sehingga pencegahan dapat dimulai dari kehati-hatian di tingkat masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi karhutla. Penanganan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, petugas pemadam, maupun kelompok tertentu.
“Kalau kita tidak bersatu dalam menangani karhutla ini itu nggak jadi-jadi. Hanya persatuan yang bisa memberantas,” katanya.
Agustiar menambahkan, karakter Kalteng yang memiliki wilayah luas dan kawasan gambut membuat pencegahan tetap harus diperkuat. Penanganan juga tidak berhenti setelah api terlihat padam karena kondisi lahan gambut membutuhkan pemantauan untuk memastikan tidak terjadi kebakaran kembali.
Ia berharap kejadian karhutla di Kalteng dapat terus ditekan. Targetnya, kata Agustiar, bukan sekadar memperbaiki posisi dalam daftar nasional, tetapi mengupayakan agar kebakaran bisa ditekan hingga seminimal mungkin.
“Kita harus tolong-menolong. Kalau bisa itu karhutla nggak ada sama sekali,” tegasnya.
Karena itu, Agustiar mengajak seluruh pihak tetap menjaga kewaspadaan. Pemerintah dan petugas terus memperkuat penanganan, sementara masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah munculnya api sejak awal. (KLIK-RED)