KLIK.SAMPIT - Tokoh agama Konghucu, Wenshi Suhardi, menyebutkan bahwa keberadaan etnis Tionghoa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu.
Ia mengungkapkan bahwa etnis Tionghoa telah menjadi bagian dari sejarah panjang Pulau Borneo dan hidup berdampingan dengan masyarakat lokal jauh sebelum era kolonial.
"Sejarah budaya warisan Tionghoa di Kotim ini sudah ada sejak lama. Bahkan, berdasarkan catatan sejarah, warga Tionghoa sudah ada sejak ribuan tahun lalu di Pulau Borneo," ujar Wenshi Suhardi, Rabu (29/1).
Menurutnya, kehadiran etnis Tionghoa di Kotim berawal dari kedatangan para perantau dari Tiongkok, khususnya dari suku Han. Mereka menetap di Borneo bahkan sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.
"Jadi, sebelum kolonial Belanda dan para penjajah masuk ke Indonesia, orang-orang Tionghoa sudah terlebih dahulu datang ke Borneo. Ketika Belanda mulai berkuasa, mereka memanfaatkan kedekatan orang Tionghoa dengan masyarakat lokal sebagai mediator antarsuku," jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, etnis Tionghoa mampu berasimilasi dengan penduduk setempat. Mereka tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sosial, tetapi juga turut memperkaya budaya lokal dengan tradisi khas seperti barongsai dan perayaan Cap Go Meh.
Meski telah lama hadir di Kotim, perjalanan umat Konghucu di daerah ini tidak selalu berjalan mulus. Pada awalnya, mereka beribadah bersama umat Buddha di tempat ibadah Tridharma. Namun, seiring bertambahnya jumlah umat Konghucu yang mencapai ribuan orang, kapasitas tempat ibadah yang ada tidak lagi mencukupi.
"Tempat ibadah yang ada tidak lagi bisa menampung umat Konghucu yang terus berkembang," ungkap Suhardi.
Melihat kondisi tersebut, mendiang Hadi Siswanto, salah satu tokoh penting dalam sejarah agama Konghucu di Kotim, mengambil inisiatif untuk mendirikan Kelenteng Kong Miao Litang atau Kelenteng Harmoni pada tahun 2000.
"Beliau menghibahkan tanah dan mendirikan kelenteng ini sebagai tempat ibadah yang lebih layak bagi umat Konghucu," ujar Suhardi.
Selain itu, pada saat yang bersamaan, umat Buddha juga membangun vihara untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Kotim tetap menjaga toleransi dan kebersamaan dalam keberagaman.
Kini, Kelenteng Kong Miao Litang tidak hanya menjadi tempat peribadatan umat Konghucu, tetapi juga simbol kerukunan antarumat beragama di Kotim.
"Kelenteng ini, meskipun terletak di Kotim yang mayoritas penduduknya beragama Islam, menjadi bukti bahwa keberagaman agama dan budaya dapat hidup berdampingan dengan damai. Ini adalah warisan berharga yang harus kita jaga dan lestarikan," tegas Suhardi.
Kelenteng ini juga berperan sebagai monumen sejarah yang menggambarkan perjalanan panjang umat Konghucu dan etnis Tionghoa di Borneo. Sebagai bagian dari warisan budaya, tempat ini mengajarkan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kotim selama berabad-abad.
"Kelenteng Kong Miao Litang ini menjadi simbol perjalanan panjang etnis Tionghoa di Borneo dan Kotim khususnya. Tempat ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai toleransi, persatuan, dan harmoni bisa tumbuh dalam keberagaman," tandas Suhardi. (KLIK-RED)