KLIK.SAMPIT – Berdiri teguh di Jalan S Parman, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Gereja Maranata menyimpan sejarah panjang jejak iman umat Kristiani di Tanah Mentaya. Bangunan ikonik ini menjadi saksi bisu perjalanan Kekristenan yang telah berakar sejak zaman kolonial Belanda.
Ketua Majelis Resort Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Sampit, Pendeta Mediorapano, mengisahkan bahwa jejak Kekristenan di wilayah ini bermula pada 1924, dari sebuah desa kecil bernama Kandan. Kala itu, para perantau dari Kapuas membawa kabar sukacita ke daerah ini melalui gerakan zending.
“Meski dibangun pada masa kolonial, gereja ini berdiri berkat swadaya masyarakat. Kayu-kayunya pun berasal dari bahan lokal,” ungkapnya, Jumat (18/4).
Kesadaran akan pentingnya rumah ibadah mendorong umat Kristen membangun sebuah gereja kayu sederhana pada 1937. Dua tahun berselang, tepatnya 1939, gereja tersebut diresmikan oleh seorang zending Belanda bernama Tuan Bekker. Meski belum diberi nama, gereja ini menjadi tempat bernaung bagi para perantau yang mencari penguatan iman.
Desain awal gereja dirancang oleh arsitek dari Mandumai, Kapuas. Wilayah tersebut dikenal sebagai pusat keahlian mebel yang bahkan mengekspor produknya hingga Eropa dan Arab.
“Gereja ini merupakan karya STM Mandumai yang memang terkenal sebagai penghasil mobiler berkualitas tinggi,” tambah Mediorapano.
Ia menuturkan, zending mulai masuk Kalimantan pada 26 Juni 1835. Empat tahun kemudian, beberapa pendatang dari Jerman dibaptis di Kapuas, menjadi pelopor penyebaran ajaran Kristen di Kalimantan Tengah.
“Dulu, orang Jerman datang ke Banjarmasin, lalu mengajar di Sungai Murung, Mandumai. Dari sana, penyebaran meluas,” katanya.
Gereja Maranata memiliki tiga lantai. Di lantai dua terdapat ruang persiapan dan kontrol suara untuk ibadah, serta bangku tambahan bagi jemaat. Sementara di lantai tiga, terdapat perpustakaan kecil yang menyimpan buku-buku agama, serta lonceng gereja yang didatangkan dari Swiss pada 1955. Lonceng berbobot puluhan kilogram itu dulu rutin dibunyikan setiap Sabtu dan Minggu pagi, namun kini tak lagi difungsikan.

“Dulu lonceng itu penting sebagai penanda ibadah, tapi sekarang sudah tergantikan oleh notifikasi WhatsApp,” ucapnya.
Seiring pertumbuhan ekonomi dan arus urbanisasi, jumlah jemaat pun meningkat. Pada 1980, karena bangunan lama tak lagi memadai, renovasi total dilakukan secara gotong royong dengan bantuan PT Inhutani yang kala itu masih aktif. Lima tahun kemudian, bangunan gereja baru diresmikan oleh Bupati Kotim saat itu, HA Kusnan Daryono, pada 13 Oktober 1985. Nama "Maranata" dipilih, yang berarti “Tuhan datang” dalam bahasa Aram.
Gereja ini bukan hanya megah dari segi fisik, tetapi juga sarat makna kebersamaan dan seni budaya. Di bagian depan berdiri patung Yesus, menyambut setiap jemaat yang datang. Di dalam, dinding pembatas gereja dihiasi mural kisah Alkitab penuh warna. Uniknya, mural tersebut dibuat oleh seniman muslim asal Jawa sebagai wujud toleransi dan penghargaan atas keberagaman di Sampit.
Hingga kini, Gereja Maranata masih aktif digunakan. Ratusan jemaat hadir setiap Minggu dalam tiga sesi ibadah: pagi, siang, dan sore. Ada pula kegiatan rutin perempuan gereja setiap Minggu.
“Suara di gereja ini terdengar jelas karena material kayunya. Berbeda dengan gereja lain seperti Eka Sinta yang dari beton,” ujar Mediorapano.
Bagi warga jemaat, Gereja Maranata bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah simbol persaudaraan dan harapan di tengah zaman yang terus berubah. Maria Fransiska (45), salah seorang jemaat, telah beribadah di gereja ini sejak kecil.
“Setiap kali masuk, aroma kayunya membawa saya kembali ke masa kecil. Di sini kami bukan hanya beribadah, tapi juga saling menguatkan,” tuturnya.
Ibu tiga anak ini bangga menjadi bagian dari gereja yang tak hanya menjaga warisan iman, tetapi juga menjadi contoh nyata kerukunan umat beragama di Sampit.
“Gereja ini bukan hanya simbol iman, tapi juga simbol cinta kasih lintas batas,” pungkasnya.(KLIK-RED)