KLIK.SAMPIT – Rencana program transmigrasi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terancam batal total. Selain terkendala minimnya lahan, rencana ini juga mendapat penolakan dari masyarakat adat dan warga lokal.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kotim Johny Tangkere, mengungkapkan bahwa saat ini hampir tidak ada lagi lahan yang memenuhi syarat untuk dijadikan kawasan transmigrasi.
“Kotim ini rasanya tidak ada lagi lahan untuk transmigrasi karena syarat minimalnya harus memiliki 19.000 hektare. Nah, Kotim sudah tidak punya lahan seluas itu,” ujar Johny, Senin (21/7).
Ia menyebutkan, sebelumnya ada empat kecamatan yang sempat diproyeksikan sebagai lokasi transmigrasi, yakni Seranau, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, dan Pulau Hanaut. Namun, sebagian besar lahan di wilayah tersebut kini telah dicadangkan untuk pertanian, sehingga sulit dialihkan untuk program transmigrasi.
“Kebijakan tetap di pusat. Kalau memang ada instruksi dari pusat, tentu kita wajib mengikuti. Tapi kita harus koordinasi dulu dengan DPRD dan masyarakat. Saat ini, mayoritas masyarakat juga menolak,” tegas Johny.
Menurutnya, penolakan masyarakat tak lepas dari kekhawatiran akan tergesernya posisi masyarakat lokal dari tanah warisan leluhur mereka. Ditambah lagi, keterbatasan lahan menjadi hambatan serius.
“Saat ini mencari lahan 5.000 hektare saja susah, apalagi 19.000 hektare. Tanpa transmigrasi pun orang dari luar tetap bisa datang dan menetap di Kotim untuk mencari penghidupan,” lanjutnya.
Penolakan terhadap rencana ini juga datang dari kalangan masyarakat adat. Mereka menilai kebijakan ini berpotensi menimbulkan konflik agraria dan mengancam keberadaan masyarakat asli di tanahnya sendiri.
“Kami menolak rencana itu. Transmigrasi bisa membuat masyarakat lokal tergeser dari tanahnya sendiri. Belum lagi banyak persoalan agraria yang belum terselesaikan,” tegas Ketua Harian Dewan Adat Dayak (DAD) Kotim, Gahara.
Dengan berbagai tantangan ini, masa depan program transmigrasi di Kotim semakin kabur. Alam tak mendukung, masyarakat pun tak menerima. (KLIK-RED)