KLIK.SAMPIT – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), melalui ketuanya, Amrullah Hadi, menyebut bahwa aliran sesat saat ini tengah mengancam Indonesia, baik dalam skala internasional, nasional, maupun lokal, termasuk di Kotim.
"Daerah kita ini merupakan daerah terbuka, jadi semua orang, dengan aliran apa pun, bisa dengan mudah masuk ke daerah kita," ujar Amrullah Hadi.
Hal ini disampaikannya saat MUI menggelar Bimbingan Teknis dalam rangka menanggulangi ajaran atau aliran sesat dalam Islam bagi MUI kecamatan se-Kotim di Aula Kantor Kementerian Agama, Sampit, Sabtu (12/10).
Ia menjelaskan, terdapat beberapa golongan yang perlu diketahui agar masyarakat tidak mengikuti aliran sesat ini. Beberapa ciri aliran sesat antara lain: mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam, meyakini dan/atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan Alquran dan sunnah, serta meyakini adanya wahyu yang turun setelah Alquran dan mengingkari otentisitas serta kebenaran isi Alquran
"Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir, mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam, menghina, melecehkan, atau merendahkan para nabi dan rasul, serta mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir," jelasnya.
Selain itu, ia juga menegaskan bahwa aliran sesat biasanya mengubah, menambah, dan/atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat, seperti haji tidak ke Baitullah dan salat wajib tidak lima waktu.
"Termasuk mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar'i, seperti mengafirkan Muslim hanya karena bukan bagian dari kelompoknya," tambahnya.
Amrullah Hadi berpesan agar semua pihak terlibat dalam penanganan dan pencegahan terhadap penyebaran aliran sesat di Kotim. Ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya aliran sesat.
"Oleh karena itu, kita semua harus menyampaikan terminologi aliran dan pemikiran sesat ini. Kita lakukan penanganan dan tindakan pencegahan agar daerah kita terhindar dari aliran sesat," ajaknya.
Selain itu, Amrullah juga menyerukan kepada masyarakat di daerah tersebut untuk selalu menjaga kerukunan antar suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
"Kita jaga agama kita, kita jaga negara kita, agar bersuku dan beragama dengan baik," pungkasnya.
Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Kotim, Sanggul Lumban Gaol, mengakui bahwa di Kotim telah muncul bibit-bibit yang mengarah pada aliran sesat. Menurutnya, manusia memang memiliki keinginan yang bebas, sehingga berbagai ajaran atau pemahaman bisa diterima oleh orang lain, namun terkadang hal tersebut lepas dari Alqe dan hadis.
"Jika sudah lepas dari Alquran dan hadis, itu adalah aliran sesat," tegasnya.
Sanggul menekankan pentingnya pemahaman ajaran yang benar agar masyarakat tidak terjerumus dalam aliran sesat.
"Saya mengimbau masyarakat untuk memahami ajaran yang harus diyakini, sehingga kita bisa tertuntun dan mengikuti sesuai akidah yang benar," tutup Sanggul. (KLIK-RED)