Home Peristiwa Pascaserangan Buaya di Sungai Parebok, Warga dalam Cengkraman Ketakutan

Pascaserangan Buaya di Sungai Parebok, Warga dalam Cengkraman Ketakutan

  Sugianto   | Selasa , 22 Oktober 2024
36cfb7fe2be58c7f7c058a7ee52651bb.jpg
Buaya muara usai menyerang warga Desa Parebok, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.

KLIK.SAMPIT – Desa Parebok, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, kini dihantui teror yang tak terlihat namun mematikan. Sungai Parebok, yang selama ini menjadi sumber kehidupan, berubah menjadi ancaman besar bagi warga setelah serangan buaya ganas menewaskan salah satu penduduk, Senin malam (21/10). Ketakutan melingkupi desa yang biasanya tenang ini.

“Kami merasa tidak aman lagi. Buaya bisa muncul tiba-tiba dari dalam air dan menyerang tanpa ampun. Ini sangat mengerikan. Kami tak berani lagi mendekati sungai,” ungkap Jossanda, dengan wajah penuh kecemasan.

Badaruzaman (53), seorang petani kelapa yang akrab disapa Teman, menjadi korban kebuasan predator tersebut. Saat ia hendak membersihkan diri di tepi sungai usai bekerja, seekor buaya besar menerkamnya, merenggut nyawa pria malang itu. Serangan brutal ini terjadi sekitar pukul 21.30 WIB, saat gelap malam menyelimuti sungai, menambah aura kengerian yang tak terlukiskan.

Desa yang dahulu bergantung pada sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan memasak, kini seakan dilanda ketakutan. Sungai yang dahulu menjadi sahabat, kini seolah berubah menjadi musuh yang siap memangsa kapan saja.

“Sungai yang dulu kami andalkan kini menjadi ancaman. Kami takut keluar rumah, apalagi mendekati sungai. Rasanya seperti hidup berdampingan dengan kematian,” tambah Jossanda, suaranya bergetar.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa pihaknya sudah menerima laporan dan tengah berkoordinasi dengan pemerintah desa. Ia memperingatkan bahwa buaya menjadi lebih agresif, terutama pada malam hari.

“Pada malam hari, buaya lebih aktif dan penglihatan kita terbatas. Ditambah lagi, saat ini adalah masa kawin dan bertelur mereka, yang membuat buaya semakin ganas,” jelasnya.

Ketakutan warga semakin menjadi-jadi dengan ancaman tak hanya dari serangan buaya, tetapi juga dari lingkungan sekitar. Muriansyah juga mengimbau warga agar tidak membuang bangkai binatang ke sungai serta menghindari memelihara ternak di tepi atau atas sungai.

“Buaya bisa mengincar ternak dan mengancam warga yang beraktivitas di sekitar. Sungai ini sekarang menjadi medan berbahaya yang bisa merenggut nyawa kapan saja,” tandasnya.

Warga Desa Parebok kini berharap ada tindakan nyata dari pihak berwenang sebelum teror buaya ini merenggut korban berikutnya. Hari-hari mereka penuh dengan kecemasan, tak lagi bisa mengandalkan sungai yang kini menjadi sarang ancaman mematikan. (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami