Home Berita Metropolis Ramadan, Waktu Terbaik Meningkatkan Ibadah dan Kepedulian Sosial

Ramadan, Waktu Terbaik Meningkatkan Ibadah dan Kepedulian Sosial

  Sugianto   | Jumat , 07 Maret 2025
c64e85d24ffb6a01415bc177493f01bc.jpg
Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Kotawaringin Timur KH Amrullah Hadi

KLIK.SAMPIT – Ramadan kembali hadir sebagai bulan penuh berkah bagi umat Islam. Selain menjalankan ibadah puasa, momen ini juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kepedulian sosial.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kotawaringin Timur (Kotim), KH. Amrullah Hadi, mengingatkan bahwa ibadah Ramadan tidak hanya sebatas puasa dan salat, tetapi juga melatih kesabaran, ketakwaan, serta keikhlasan.

"Bulan suci ini menjadi kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan meningkatkan amalan seperti salat, membaca Alqur'an , dan bersedekah. Selain itu, Ramadan juga melatih kita agar lebih sabar dan ikhlas," ujarnya, Jumat (7/3).

Amrullah menegaskan bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki kebiasaan ibadah, bukan sekadar menahan lapar dan haus. Tantangan dalam menjalankan ibadah di bulan ini adalah hal yang wajar, baik secara fisik maupun mental.

"Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Contohnya, orang sakit atau bepergian diperbolehkan mengganti puasa di lain waktu, dan salat bisa dilakukan sesuai kemampuan," jelasnya.

Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak membandingkan ibadahnya dengan orang lain. Yang terpenting adalah konsistensi dan niat untuk terus memperbaiki diri.

"Tidak harus mengkhatamkan Alqur'an, tetapi membaca dengan pemahaman yang mendalam lebih utama. Jalani Ramadan dengan tenang dan tetap berusaha meningkatkan kualitas ibadah," tambahnya.

Selain meningkatkan ibadah individu, Ramadan juga menjadi waktu untuk mempererat kepedulian sosial. Amrullah mengajak umat Islam untuk lebih aktif dalam berzakat, bersedekah, dan berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan.

"Zakat dan sedekah bukan hanya kewajiban, tetapi juga wujud kepedulian kita terhadap sesama. Berbagi makanan berbuka puasa atau membantu tetangga yang kesulitan juga sangat dianjurkan," ujarnya.

Puasa, menurutnya, tidak hanya mengajarkan kesabaran dalam menahan lapar dan haus, tetapi juga membangun empati terhadap orang-orang yang kurang beruntung.

Amrullah juga mengingatkan bahwa meskipun dalam hadis disebutkan setan dibelenggu di bulan Ramadan, bukan berarti tidak ada godaan. Justru, ujian terbesar datang dari hawa nafsu dan kebiasaan buruk diri sendiri.

"Semakin banyak kita berzikir, tadarus Alqur'an, qiyamullail, dan melakukan amal saleh, semakin kuat iman kita menghadapi godaan," tuturnya.

MUI Kotim sendiri tidak mengeluarkan panduan khusus terkait Ramadan, namun tetap berpegang pada ajaran Islam yang sudah ada.

"Para pemuka agama di tingkat kecamatan dan desa akan terus melakukan syiar kepada umat Muslim agar menjalankan Ramadan dengan baik," tandasnya. (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami