KLIK. SAMPIT – Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah wajib dalam Islam yang harus dijalankan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Dalam khotbah Jumat di Masjid Al Hidayah, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, M. Nasir, tokoh agama setempat, menjelaskan alasan di balik kewajiban puasa Ramadan serta hikmah yang terkandung di dalamnya.
"Allah SWT telah memberikan tuntunan bagi kita berupa agama Islam. Islam sebagai pedoman hidup memiliki pilar-pilar utama yang disebut dengan rukun Islam," ujar M. Nasir dalam khotbahnya, Jumat (7/3).
Dia menegaskan bahwa Islam didirikan di atas lima dasar, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
Mengucapkan syahadat, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.
- Menegakkan salat.
- Mengeluarkan zakat.
- Berpuasa di bulan Ramadan.
- Melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu.
M. Nasir mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an yang menjadi dasar kewajiban puasa bagi umat Islam:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian menjadi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).
Menurutnya, ayat ini menegaskan bahwa kewajiban puasa tidak hanya berlaku bagi umat Islam, tetapi juga telah diterapkan kepada umat-umat sebelumnya. Puasa merupakan sarana untuk meningkatkan ketakwaan dan mendidik jiwa agar lebih disiplin dalam menaati perintah Allah.
"Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga ujian kesabaran dalam mengendalikan hawa nafsu. Inilah yang membedakan antara orang yang benar-benar beriman dengan yang tidak," jelasnya.
Dia juga menekankan bahwa puasa memiliki aturan yang harus ditaati, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 187:
"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kamu, mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka."
Selain itu, dalam ayat yang sama juga disebutkan batas waktu berpuasa:
"Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar."
Ayat ini menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa, termasuk waktu sahur dan berbuka.
M. Nasir menegaskan bahwa kepatuhan dalam menjalankan ibadah puasa mencerminkan tingkat keimanan seseorang. Mereka yang menaati perintah Allah dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan pahala dan keberkahan, sedangkan yang mengabaikannya berarti telah menyia-nyiakan amanat dari Allah.
"Ketentuan Allah harus kita patuhi baik saat sendirian maupun di tengah orang banyak, sebab Allah Maha Mengetahui segala gerak dan tingkah laku kita," tandasnya.
Sebagai penutup, dia mengajak umat Muslim untuk menjalankan puasa Ramadan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, serta menjadikannya sebagai sarana memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. (KLIK-RED)