KLIK.SAMPIT – Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di masjid-masjid Kotawaringin Timur (Kotim) setiap malam Ramadan. Tradisi tadarus ini menjadi bagian tak terpisahkan dari bulan suci, di mana umat Islam berlomba-lomba mengisi waktu dengan membaca dan memahami makna Al-Qur’an.
Ustaz Sarifuddin Al Banjari mengatakan bahwa tadarus bukan sekadar membaca, tetapi juga mendalami makna yang terkandung di dalamnya. Biasanya, kegiatan ini dilakukan secara berkelompok setelah salat tarawih.
"Tadarus saat Ramadan memiliki makna tersendiri karena di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan. Membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan pahalanya berlipat ganda," ujarnya, Sabtu (15/3).
Dia menyarankan agar umat Islam menetapkan waktu khusus untuk tadarus, terutama setelah tarawih, baik secara pribadi maupun berjamaah. Menurutnya, membaca Al-Qur’an bersama-sama lebih membangkitkan semangat dibandingkan melakukannya sendirian.
"Kebersamaan dalam membaca Al-Qur’an memberikan motivasi agar tetap istiqomah. Selain setelah tarawih, waktu subuh juga bisa dimanfaatkan untuk tadarus," imbuhnya.
Dia juga menyoroti kemudahan akses Al-Qur’an di era digital, di mana masyarakat bisa membaca melalui aplikasi di ponsel kapan saja dan di mana saja.
Selain mendapatkan pahala berlipat, tadarus juga mempererat silaturahmi dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah. Hal ini membawa keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat.
Di bulan Ramadan, setiap ibadah dilipatgandakan pahalanya. Salah satu momen paling istimewa adalah Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
"Seribu bulan setara dengan 84 tahun beribadah. Oleh karena itu, meningkatkan ibadah, terutama pada 10 malam terakhir Ramadan, menjadi sangat penting untuk meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar," jelasnya.
Menurutnya, Nabi Muhammad SAW lebih banyak beritikaf di masjid pada 10 malam terakhir Ramadan. Karena itu, umat Islam disarankan untuk memperbanyak ibadah dan amalan di waktu-waktu tersebut.
Selain tadarus, ada banyak amalan lain yang bisa dilakukan selama Ramadan untuk meraih keberkahan, seperti salat tarawih, qiyamul lail, tahajud, dan dzikir.
Tak hanya ibadah ritual, Ramadan juga menjadi momen untuk meningkatkan kepedulian sosial. Memberi makan kepada orang yang berpuasa, bersedekah, serta membantu fakir miskin dan anak yatim menjadi bagian dari amalan yang dianjurkan.
"Tidak semua orang berada dalam kondisi berkecukupan. Ada fakir miskin, orang sakit, dan mereka yang hidup dalam keterbatasan. Mereka inilah yang perlu kita santuni agar bisa menjalani Ramadan dengan lebih tenang," ujarnya.
Dia juga mengingatkan tentang pentingnya menunaikan zakat fitrah sebelum Idulfitri, sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus penyucian diri.
Dengan semangat tadarus dan berbagai ibadah lainnya, Ramadan benar-benar menjadi bulan penuh keberkahan, di mana umat Islam diajak untuk lebih dekat kepada Al-Qur’an dan meningkatkan amal kebaikan. (KLIK-RED)