Home Berita Nasional Kelotok Kecil Jadi Saksi, Perjuangan Guru Honorer di Pedalaman Kotim

Kelotok Kecil Jadi Saksi, Perjuangan Guru Honorer di Pedalaman Kotim

  Sugianto   | Kamis , 21 Agustus 2025
5470aeda95c74a26815b349dd7142e4c.jpg
Guru di pedalaman Kotim bertaruh nyawa menuju tempat mengajar.

KLIK.SAMPIT- Di tengah keterbatasan sarana dan akses transportasi, perjuangan seorang guru di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tepatnya di Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, menjadi potret nyata dedikasi untuk mencerdaskan anak bangsa.

Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan panjang dengan medan yang cukup berat. Derasnya arus sungai yang harus diseberangi, tidak menyurutkan niatnya demi bisa hadir di sekolah.

Dengan menggunakan perahu kecil atau kelotok, sang guru kerap menghadapi risiko besar. Namun, tekadnya untuk memberikan ilmu kepada murid-murid di pedalaman lebih kuat daripada rasa takut.

"Kadang kami harus melawati derasnya aliran sungai, dengan perahu tanpa atap. Tapi kalau tidak menyeberang, anak-anak tidak bisa belajar. Jadi harus berani," ucap Rabiyatul Dwi Andita, Kamis (21/8).

Menurut guru yang mengajar di SDN 6 Mentaya Seberang ini, tiap harinya mereka harus menempuh perjalanan darat sekitar 30 menit, lalu melanjutkan dengan menyeberangi sungai menggunakan perahu kecil selama 20 menit, dan berjalan kaki sekitar 5 menit lagi menuju sekolah.

Tak jarang, mereka harus menghadapi hujan deras dan angin kencang. Namun, semua itu tak menyurutkan semangat mereka. Dengan hanya berbekal payung dan jas hujan seadanya, para guru ini tetap berangkat mengajar, demi memberikan pendidikan bagi anak-anak di desa.

Meski begitu, semangat belajar anak-anak tetap tinggi. Mereka menunggu dengan sabar kedatangan sang guru setiap pagi.

"Kalau hujan ya kehujanan, panas kepanasan. Perahunya kecil, tanpa atap. Tapi tetap kami jalani, karena ini sudah menjadi tanggung jawab kami," ujar Dita.

Selain itu, guru honorer sekolah ini yang hanya menerima gaji sekitar Rp500.000 per bulan menyayangkan perjuangan mereka tidak sebanding dengan kesejahteraan yang diterima.

Menurutnya, dari sembilan guru, hanya empat yang berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dan satu orang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), sementara empat lainnya masih berstatus honorer sekolah.

“Kalau dihitung-hitung, biaya transportasi per bulan mencapai Rp300 ribu, sedangkan gaji guru honorer hanya sekitar Rp500 ribu," ungkap Dita.

Setelah dipotong kebutuhan dan transportasi, gaji bersih yang diterima sekitar Rp200 ribu per bulan.

"Untungnya kepala sekolah terkadang bisa menalangi jika dana BOS belum cair. Tapi secara keseluruhan, biaya transportasi tetap ditanggung pribadi," tambah Dita.

Dita yang telah dua tahun mengabdi menjadi guru honorer sekolah itu menyebut, di sekolah tersebut terdapat satu orang penjaga sekolah. Namun, tahun ini, satu-satunya penjaga sekolah yang merupakan warga asli kampung itu sudah tidak lagi mengajar, sehingga semakin menambah beban bagi para guru yang tersisa.

Kisah perjuangan mereka sempat viral di media sosial setelah Dita mengunggah video perjalanan mereka menembus hujan dan menyeberangi sungai melalui akun TikTok pribadinya. Dalam video itu, ia menyuarakan rasa kecewa terhadap pernyataan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, yang menyebut guru seakan-akan beban negara.

Kisah ini mencerminkan bahwa masih banyak tenaga pendidik yang berjuang dengan segala keterbatasan.

Harapannya, perhatian lebih dari pemerintah bisa diberikan, baik berupa peningkatan fasilitas sekolah maupun akses transportasi, agar proses belajar mengajar di pedalaman Kotim bisa berjalan lebih baik. (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami