Home Pemerintah Kotawaringin Timur Titik Api Sulit Dijangkau, Kotim Minta Tambahan Kendaraan Trail dan Sumur Bor

Titik Api Sulit Dijangkau, Kotim Minta Tambahan Kendaraan Trail dan Sumur Bor

  Sugianto   | Sabtu , 10 Oktober 2026
36771d0cc4fd9bcd781cf3cbdb45b4e3.jpg
Wakil Bupati Kotim Irawati dan Pj Sekda Kotim Diana Setiawan saat mendampingi Gubernur Kalteng Agustiar Sabran saat diwawancara wartawan di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat (9/10). (Sugianto /Klikkalteng.id)

KLIK.SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengusulkan tambahan kendaraan trail dan pembangunan sumur bor untuk mendukung pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Usulan itu disampaikan karena petugas menghadapi kendala akses menuju titik api dan keterbatasan sumber air, terutama di Kecamatan Mentaya Seberang, Seranau, dan Pulau Hanaut.

Wakil Bupati Kotim Irawati menyampaikan kendala tersebut saat rapat koordinasi evaluasi penanganan darurat karhutla bersama Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran di rumah jabatan Bupati Kotim, Jalan A Yani, Sampit, Jumat (9/10) malam.

Irawati menjelaskan, sejumlah lokasi kebakaran tidak dapat dijangkau menggunakan kendaraan roda empat. Petugas terkadang harus menggunakan kendaraan roda dua, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk mencapai titik api.

“Kami mengusulkan kendaraan trail untuk mendukung petugas di lapangan. Di Kecamatan Mentaya Seberang, Seranau dan Pulau Hanaut, akses menuju lokasi kebakaran sangat terbatas. Bahkan, untuk mencapai titik api, petugas harus berjalan kaki,” kata Irawati.

Selain akses, ketersediaan air menjadi kendala lain dalam penanganan karhutla di Kotim. Pemerintah kabupaten telah melakukan pengeboran di sejumlah titik untuk mencari sumber air yang dapat digunakan petugas saat memadamkan api.

Namun, upaya tersebut belum seluruhnya berhasil. Irawati menyebut, salah satu pengeboran belum menemukan air meskipun kedalamannya telah mencapai sekitar 40 meter.

Pemerintah kabupaten berharap dukungan pembangunan sumur bor di lokasi strategis dapat membantu menyediakan sumber air yang lebih dekat dengan wilayah rawan kebakaran.

“Kami juga mengusulkan pembangunan sumur bor melalui Dinas Kehutanan di wilayah yang menjadi titik kebakaran. Pengeboran sudah dilakukan, tetapi sampai kedalaman 40 meter belum ditemukan air. Mudah-mudahan dukungan dari pemerintah provinsi bisa membantu mengurangi kendala yang kami hadapi,” tuturnya.

Menanggapi usulan tersebut, Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menyatakan pemerintah provinsi akan mengupayakan bantuan untuk kebutuhan penanganan karhutla sesuai kemampuan dan dukungan yang tersedia.

Kebutuhan yang dibahas meliputi mesin alkon, selang, kendaraan operasional, serta pembangunan sumur bor. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu petugas menghadapi kendala pemadaman di lapangan.

“Kami sudah berdiskusi dengan Wakil Bupati Kotim mengenai kebutuhan penanganan karhutla, termasuk sumur bor, selang, mesin alkon dan peralatan lainnya. Kebutuhan yang bisa kami bantu akan diupayakan agar penanganan kebakaran di Kotim dapat berjalan lebih optimal,” ujar Agustiar.

Dalam rapat tersebut, Agustiar juga menyoroti dampak karhutla terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat. Ia menyebut adanya perkiraan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan hari-hari biasa berdasarkan pengecekan ke rumah sakit.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan kasus ISPA tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan karhutla karena kondisi pancaroba juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat.

Kebakaran di Kecamatan Seranau dan Pulau Hanaut turut menjadi perhatian karena asapnya dilaporkan mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit.

Keterbatasan akses, sulitnya memperoleh sumber air, dan dampak asap menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan personel, tetapi juga sarana yang sesuai dengan kondisi wilayah. Pemerintah kabupaten berharap dukungan dari pemerintah provinsi dapat membantu mempercepat mobilitas petugas dan memperkuat upaya pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau. (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami