Home Berita Nasional Kalteng Masuk Wilayah Prakiraan Hujan Rendah-Menengah, Kewaspadaan Karhutla Perlu Dijaga

Kalteng Masuk Wilayah Prakiraan Hujan Rendah-Menengah, Kewaspadaan Karhutla Perlu Dijaga

  Redaksi   | Sabtu , 10 Oktober 2026
175e10bcd91c8b54908e35d5b0bd0111.jpg
Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kotawaringin Timur, belum lama ini. (Dok: Klikkalteng.id)

KLIK.PALANGKA RAYA – Kalimantan Tengah termasuk wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori dominan rendah hingga menengah pada periode 1–10 Oktober 2026. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di tengah kejadian kebakaran yang masih mendominasi laporan bencana nasional pada awal Oktober.

Informasi tersebut tercantum dalam laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengenai perkembangan situasi dan penanganan bencana periode Sabtu (3/10) hingga Minggu (4/10) pukul 07.00 WIB. Dalam laporan itu, BNPB mengutip prediksi curah hujan kumulatif Dasarian I Oktober 2026 dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Wilayah dengan prakiraan curah hujan dominan rendah hingga menengah tidak hanya mencakup Kalteng, tetapi juga sejumlah provinsi di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Meski demikian, prakiraan tersebut merupakan gambaran kondisi curah hujan dalam suatu periode dan wilayah. Kondisi aktual dapat berbeda antardaerah sehingga perkembangan cuaca setempat tetap perlu dipantau.

Karhutla Masih Mendominasi Laporan Bencana

Dalam laporan yang sama, BNPB menyebut karhutla masih mendominasi kejadian bencana yang dilaporkan pada pekan pertama Oktober 2026.

Sejumlah kejadian tercatat di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kebakaran menghanguskan 11 hektare kawasan hutan Gunung Bancak. Api berhasil dipadamkan pada Sabtu (3/10), sementara penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kebakaran di beberapa lokasi menghanguskan sekitar 4,6 hektare hutan dan lahan. Kebakaran lain di kawasan Bukit Cemoro Sewu menyebabkan dua orang mengalami luka ringan dan sedang. Tim gabungan berhasil memadamkan api pada hari kejadian, meskipun asap masih terlihat di lokasi.

Sementara itu, kebakaran di kawasan Perhutani BKPH Tangen Surakarta, Kabupaten Sragen, menghanguskan sekitar 20 hektare hutan. Kebakaran tersebut bermula setelah api dari pembakaran daun tebu kering di lahan warga membesar dan merambat ke kawasan Perhutani.

Proses pemadaman di Sragen sempat terkendala akses menuju lokasi yang curam dan licin. Berdasarkan pembaruan pada Sabtu (3/10), tim gabungan telah berhasil memadamkan api.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa akses menuju lokasi dan penanganan awal menjadi faktor penting dalam upaya mengendalikan kebakaran agar tidak meluas.

BNPB Ingatkan Pencegahan Sejak Dini

BNPB mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla dan kekeringan. Warga diminta tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan kepada petugas berwenang apabila menemukan titik api.

Pelaporan sejak dini diperlukan agar petugas dapat segera melakukan penanganan sebelum api meluas. Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara efisien, mewaspadai potensi cuaca ekstrem, dan mengikuti informasi resmi dari BNPB, BPBD, BMKG, serta pemerintah daerah.

Bagi Kalteng, pemantauan kondisi cuaca dan perkembangan kebakaran di lapangan menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Prakiraan hujan rendah hingga menengah perlu dibaca bersama data aktual agar langkah antisipasi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. (KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami