KLIK.SAMPIT – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat 1.366 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan luas lahan terbakar lebih dari 2.135 hektare sejak Januari hingga 9 Oktober 2026. Keterbatasan sumber air dan akses menuju titik api mendorong pemerintah kabupaten mengusulkan tambahan sarana pemadaman, mulai dari sumur bor hingga kendaraan operasional.
Kebutuhan tersebut disampaikan Wakil Bupati Kotim Irawati dalam rapat koordinasi evaluasi penanganan darurat karhutla dan kekeringan bersama Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD). Rapat berlangsung di Aula Rumah Jabatan Bupati Kotim, Jumat (9/10/2026) malam.
Berdasarkan data BPBD Kotim, ribuan kejadian karhutla sepanjang tahun ini menjadi tantangan bagi petugas, terutama saat menangani kebakaran di lokasi yang sulit dijangkau dan memiliki keterbatasan sumber air.
Dalam pertemuan tersebut, Irawati menyampaikan sejumlah kebutuhan mendesak untuk mendukung pemadaman. Usulan itu meliputi selang pemadam, mesin alkon, pembangunan sumur bor, embung, serta kendaraan operasional.
Kendaraan tambahan diperlukan untuk membantu petugas menjangkau lokasi kebakaran yang aksesnya terbatas, khususnya di Kecamatan Seranau dan Pulau Hanaut. Sementara itu, sumur bor dan embung diharapkan dapat menyediakan sumber air yang lebih dekat dengan titik rawan kebakaran.
Keterbatasan akses dan pasokan air menjadi kendala yang perlu diatasi agar petugas dapat bergerak lebih efektif saat melakukan pemadaman.
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menyatakan pemerintah provinsi siap mengupayakan dukungan untuk kebutuhan penanganan karhutla di Kotim, mulai dari peralatan pemadaman hingga pembangunan sumur bor.
Namun, Pemerintah Provinsi Kalteng meminta Pemkab Kotim segera menyampaikan surat permohonan resmi agar kebutuhan yang dapat dibantu bisa diproses.
Dukungan lintas pemerintahan diharapkan memperkuat upaya pemadaman, mencegah kebakaran meluas, serta mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Kotim juga terus memperkuat koordinasi dan penanganan di lapangan. Selain mengoptimalkan pemadaman, upaya pencegahan diperlukan untuk menekan risiko kebakaran berulang.
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api.
Dengan catatan 1.366 kejadian dan luas lahan terbakar lebih dari 2.135 hektare hingga 9 Oktober 2026, ketersediaan peralatan, sumber air, dan sarana mobilitas menjadi kebutuhan penting untuk mendukung penanganan karhutla di Kotim. (KLIK-RED)