KLIK.SAMPIT – Air sumur yang mulai terasa payau di sejumlah wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menambah persoalan warga di tengah kekeringan yang belum usai. Anggota DPRD Kotim Muhammad Hafiz, mendorong pemerintah daerah mempertimbangkan bantuan air minum dalam kemasan bagi masyarakat yang masih kesulitan mendapatkan air untuk konsumsi.
Hafiz mengatakan, pemerintah daerah masih berupaya menyalurkan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak, terutama Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Utara, dan Teluk Sampit.
“Alhamdulillah, pemerintah daerah masih terus menyalurkan air bersih. Kepala desa, lurah, dan LPMK juga bersinergi membantu di lapangan. Karena wilayahnya luas dan armada terbatas, distribusi memang dilakukan secara bertahap,” kata Hafiz, Minggu (11/10).
Menurutnya, distribusi air menghadapi sejumlah kendala, mulai dari luasnya wilayah layanan hingga keterbatasan armada pengangkut. Akibatnya, penyaluran harus dilakukan bertahap untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Persoalan semakin terasa ketika sumber air yang biasa digunakan warga mulai payau. Pasokan air bersih pun harus didatangkan dari Sampit menggunakan armada yang tersedia.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di Kecamatan Pulau Hanaut yang memiliki 14 desa. Sejumlah desa harus dijangkau melalui jalur air, sehingga pasokan yang dibawa dari Sampit masih perlu diseberangkan menggunakan perahu atau klotok.
Beberapa titik penyaluran di antaranya melalui pelabuhan Basirih Hulu, Semuda, dan Pelingkau. Keterbatasan armada serta waktu tempuh membuat distribusi membutuhkan waktu lebih lama.
Hafiz mengapresiasi upaya pemerintah daerah yang terus menyalurkan air bersih. Namun, ia menilai kebutuhan warga juga perlu dilihat dari sisi ketersediaan air untuk diminum, terutama ketika sumber air setempat belum kembali normal.
Ia berharap hujan segera turun dan mengisi kembali sumber-sumber air masyarakat. Jika kekeringan masih berlanjut dan air sumur tetap payau, bantuan air minum dalam kemasan perlu dipertimbangkan, khususnya bagi warga yang paling membutuhkan dan memiliki keterbatasan ekonomi.
Selain itu, Hafiz mendorong pendataan kebutuhan melalui pengurus RT dan perangkat desa agar bantuan dapat disalurkan sesuai kondisi masyarakat di lapangan. Koordinasi tersebut dinilai penting untuk menentukan prioritas penerima.
Ia juga menyebut armada pemerintah yang memungkinkan digunakan, termasuk kendaraan pemadam kebakaran, dapat dipertimbangkan untuk membantu distribusi air bersih dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kemampuan operasional masing-masing instansi.
Hafiz berharap koordinasi pemerintah daerah, pemerintah desa, kelurahan, dan pihak terkait terus berjalan agar kebutuhan air masyarakat di wilayah selatan Kotim tetap terpenuhi selama kekeringan berlangsung. (KLIK-RED)