KLIK.SAMPIT – Ancaman buaya masih menghantui warga di wilayah Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Yang paling mengkhawatirkan, para santri di Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Datul Imam di Desa Babaung masih terpaksa mandi di sungai yang diketahui menjadi lintasan buaya karena keterbatasan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit Muriansyah, mengatakan pihaknya telah menerima banyak laporan kemunculan buaya di sejumlah titik di wilayah tersebut.
“Dari lokasi yang kami datangi hari ini, tempat santri mandi di Sungai Bebaung termasuk yang paling rawan serangan. Kasihan para santri, mereka tetap mandi di lanting meski sudah beberapa kali buaya terlihat di sekitar sana,” kata Muriansyah, Kamis (24/4).
Dia menambahkan, berdasarkan keterangan Sekretaris Desa, buaya yang kerap muncul di sekitar lokasi berukuran besar. Parahnya, jarak lokasi santri mandi hanya sekitar 400 sampai 500 meter dari muara sungai. Kondisi ini dinilai sangat rawan karena sangat memungkinkan buaya dari Sungai Mentaya masuk ke anak sungai tersebut.
Bak mandi yang tersedia saat ini disebut tidak layak digunakan. Bak itu hanya satu, berukuran sekitar 5×5 meter dengan tinggi 1 meter dan kondisinya sudah rusak. Para santri pun sempat menyampaikan harapan agar ada bantuan tambahan fasilitas mandi yang aman.
Sebagai langkah pencegahan, petugas BKSDA bersama lima staf PT RMU memasang 10 spanduk imbauan kewaspadaan buaya di sejumlah titik rawan di wilayah perairan Sungai Mentaya, yakni di Desa Hanaut 3 titik, Desa Bapinang Hulu sebanyak 2 titik, Desa Babaung sebanyak 2 titik, Desa Bapinang Hilir sebanyak 1 titik, Desa Bamadu 1 titik dan Desa Penyaguan sebanyak 1 titik.
Selain memasang spanduk, tim juga berkoordinasi dengan pihak kecamatan, kepala desa setempat, serta memberikan imbauan langsung kepada warga dan para santri yang dijumpai selama kegiatan.
“Kami imbau masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran sungai, untuk tidak lagi melakukan aktivitas MCK di sungai karena sudah tidak aman. Terutama bagi anak-anak dan remaja seperti para santri ini,” tegas Muriansyah.
Kegiatan BKSDA ini turut disaksikan oleh perwakilan kecamatan, aparat desa, serta Bhabinkamtibmas dari Polsek Pulau Hanaut. (KLIK-RED)