KLIK.SAMPIT – Sepanjang tahun 2025, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mencatat sedikitnya lima kasus konflik antara buaya dan manusia di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Dari lima kejadian tersebut, satu orang meninggal dunia, sementara tiga lainnya mengalami luka-luka.
Kasus terbaru terjadi di Desa Bagendang Permai, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Seorang warga bernama Nursehan (62) diserang buaya saat mandi dan mengambil air wudu di Sungai Mentaya, sekitar pukul 05.00 WIB, Senin (21/7).
Korban mengalami luka pada bagian tangan dan sempat dilarikan ke Puskesmas sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD dr Murjani Sampit.
“Alhamdulillah korban selamat dan saat ini masih dirawat di Puskesmas terdekat,” ujar Camat Mentaya Hilir Utara Muslih.
Sebelumnya, insiden serupa terjadi pada 3 Mei 2025 di Desa Ramban (juga dikenal sebagai Babendang Tengah), Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Warga bernama Samsul Anwar (46) diserang buaya saat mengambil air wudu menjelang salat Isya di bawah jembatan atau lanting. Ia mengalami luka pada tangan kanan dan harus mendapatkan 15 jahitan.
Pada 4 April 2025, serangan buaya merenggut nyawa warga bernama Sani (35), asal Desa Babaung. Peristiwa tragis ini terjadi saat korban sedang mandi di Sungai Hanaut, Kecamatan Pulau Hanaut.
“Ini menjadi salah satu dari lima kasus serangan buaya yang kami tangani sepanjang 2025,” kata Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah.
Satu kasus lainnya terjadi pada Januari 2025 di Sungai Pasir, Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit. Dua warga setempat mengalami luka-luka akibat digigit buaya di bagian tangan dan kaki.
Menurut Muriansyah, meningkatnya konflik manusia dengan buaya disebabkan oleh hilangnya habitat alami buaya dan berkurangnya sumber makanan. Kondisi ini membuat buaya makin sering memasuki kawasan permukiman warga.
“Kebiasaan membuang sampah dan bangkai ternak ke sungai juga menjadi faktor pemicu. Bau dari limbah organik ini dapat menarik perhatian buaya,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, kemunculan buaya saat ini tidak lagi terbatas pada musim kawin. Satwa predator tersebut kini lebih sering terlihat sepanjang tahun.
Untuk itu, BKSDA mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di tepi sungai, terutama pada waktu dini hari dan malam hari. Aktivitas seperti mandi, mencuci, dan buang air (MCK) di Sungai Mentaya maupun anak-anak sungainya kini dianggap berisiko tinggi.
“Selain itu, jangan membuang bangkai ternak atau sampah rumah tangga ke sungai yang menjadi habitat buaya. Kesadaran bersama dan langkah preventif harus segera dilakukan. Kami juga akan terus melakukan patroli dan sosialisasi ke desa-desa terdampak,” tegas Muriansyah. (KLIK-RED)