KLIK.SAMPIT – Pemerhati satwa liar yang dikenal luas di Indonesia, Panji Petualang, menjenguk langsung Nursehan (62), korban selamat dari serangan buaya di Sungai Mentaya, Desa Bagendang Permai, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.
Kehadiran Panji di RSUD dr Murjani Sampit, Senin (21/7), bukan hanya sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan, tetapi juga untuk mengedukasi masyarakat terkait pentingnya mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar yang masih kerap terjadi di wilayah ini.
“Hari ini saya menjenguk langsung Ibu Nursehan, korban serangan buaya di Sungai Mentaya. Sungai yang dulunya menjadi sumber kehidupan, kini menyimpan ancaman nyata,” ujar Panji.
Panji menegaskan bahwa konflik dengan buaya bukan soal menyalahkan satwa, melainkan tentang bagaimana manusia harus memahami dan menghormati wilayah hidup hewan liar.
“Ini bukan tentang siapa yang salah. Buaya mempertahankan wilayahnya. Ini soal pemahaman, mitigasi, dan pencegahan agar konflik tidak terus berulang,” tegasnya.
Ia menyebutkan, berdasarkan data BKSDA Kalimantan Tengah, sejak 2010 hingga Juli 2025 sudah terjadi 54 kasus serangan buaya di Kalimantan Tengah.
Panji mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di sungai pada waktu rawan seperti subuh dan malam hari. Ia juga meminta agar tidak membuang limbah atau bangkai ke sungai, serta mendorong pemasangan papan peringatan di wilayah rawan buaya, pemetaan titik bahaya, dan patroli rutin oleh aparat dan masyarakat.
Kisah Mencekam di Pagi Buta
Dalam pertemuan itu, Nursehan sempat menceritakan kisah mencekam yang dialaminya. Serangan terjadi pada Senin (21/7) sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu, ia hendak mandi di Sungai Mentaya karena kran air di rumahnya rusak.
“Sebenarnya saya sudah selesai mandi. Tapi karena tangan masih ada sabun, saya bilas lagi. Tiba-tiba tangan langsung diterkam, ditarik ke sungai,” cerita Nursehan dengan suara pelan.
Ia sempat diseret buaya beberapa meter ke tengah sungai. Dalam kondisi panik dan kesakitan, ia berteriak memanggil anaknya. Warga yang mendengar langsung datang membantu dan berhasil menarik tubuh Nursehan dari cengkeraman buaya.
Korban segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat dan kini masih menjalani perawatan intensif akibat luka parah di tangan. Meski kondisinya berangsur membaik, trauma mendalam masih dirasakan Nursehan.
Panji berharap, kejadian ini menjadi momentum serius bagi pemerintah daerah, masyarakat, dan komunitas pecinta satwa untuk bersinergi mencegah konflik serupa di masa depan.
“Keselamatan warga harus berjalan seiring dengan pelestarian satwa liar. Kita bisa hidup berdampingan jika ada pemahaman dan langkah nyata bersama,” tutup Panji.(KLIK-RED)