Home Peristiwa Genggam Parang dan Cairan Kimia, Pria di Kotim Tinggalkan Dunia dengan Luka dan Surat Pamit

Genggam Parang dan Cairan Kimia, Pria di Kotim Tinggalkan Dunia dengan Luka dan Surat Pamit

  Sugianto   | Rabu , 23 Juli 2025
f81ab31085433ca365842850d4b2c7d6.jpg
Petugas kepolisian melakukan identifikasi di lokasi kejadian dugaan bunuh diri di Desa Sei Ubar, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Selasa (22/7).

KLIK.SAMPIT – Warga Desa Sei Ubar Mandiri, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), diguncang kabar duka. Seorang pria bernama Kokok (35) ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di kediamannya, Selasa pagi (22/7).

Diduga kuat, Kokok mengakhiri hidupnya sendiri. Ia ditemukan dengan tubuh bersimbah darah, menggenggam sebilah parang, dan diduga telah menenggak cairan kimia berbahaya. Yang mengiris hati, Kokok meninggalkan sepucuk surat yang berisi permintaan maaf kepada keluarganya.

Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Kapolsek Cempaga Hulu Ipda Edi Hariyanto menjelaskan, hasil pemeriksaan awal dan olah TKP mengarah kuat pada dugaan bunuh diri. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dari pihak lain.

"Surat yang diduga ditulis sendiri oleh korban ditemukan di lokasi. Isinya emosional, menunjukkan adanya tekanan batin yang mendalam," ujar Edi, Rabu (23/7).

Dalam surat itu, Kokok menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga dan menyatakan keinginannya untuk mengakhiri hidup.

Korban pertama kali ditemukan oleh tetangganya, W (27), sekitar pukul 07.00 WIB. Ia tergeletak di rumah dengan luka parah dan sebilah parang berada di bawah tubuhnya. Cairan kimia juga ditemukan di sekitar lokasi.

Kokok sempat dibawa warga ke Puskesmas Pundu bersama pamannya WH (56), namun pada pukul 11.59 WIB, ia dinyatakan meninggal dunia.

Warga sekitar mengaku terkejut. Selama ini, Kokok dikenal sebagai pribadi pendiam dan tidak banyak bicara. "Tidak ada tanda-tanda mencurigakan sebelumnya," ujar salah satu warga.

Polisi masih menyelidiki lebih lanjut, termasuk menggali informasi dari para saksi dan menunggu hasil visum. Namun pihak keluarga telah menyatakan menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak autopsi. Jenazah telah dipulangkan ke Desa Keruing untuk dimakamkan.

Tragedi ini menambah daftar kasus dugaan bunuh diri di wilayah Kotim, yang kerap terjadi akibat tekanan psikologis. Polisi mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi mental lingkungan sekitar, serta tidak ragu mencari bantuan jika mengalami tekanan batin.

Jika Anda atau orang terdekat mengalami tanda-tanda depresi, sebaiknya segera bicara dengan orang terpercaya atau tenaga profesional. Bantuan selalu tersedia. (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami